Siapa Ketua MPR? Tunggu Instruksi SBY

Kompas.com - 02/10/2009, 17:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kursi Ketua MPR belum terpilih. Spekulasi politik terus berkembang, tentang siapakah yang akan duduk di kursi tersebut? Tiga calon yang beredar adalah Hidayat Nurwahid dari PKS, Taufik Kiemas dari PDI-Perjuangan dan Ginandjar Kartasasmita dari perwakilan DPD. "Yang jelas semua partai koalisi masih menunggu instruksi dari SBY. Kalau SBY bilang PDI-P masuk dan mendukung TK maka partai koaliasi akan melakukan itu," kata Bima Arya Sugiarto, Direktur Eksekutif Charta Politika, di Jakarta, Jumat (2/10).

Menurut Bima, putusan SBY juga tergantung dari kesepakatan antara PDI-P dan Demokrat. Namun sampai sekarang belum ada suara dari Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum DPP PDI-P apakah akan masuk dalam partai koalisi atau tidak.

Apakah ada kemungkinann partai koaliasi dukung TK? "Mungkin koalisi hanya untuk mendukung TK sebagai ketua MPR tetapi tidak berlanjut pada koalisi permanen," kata Bima.

Namun, jika PDI-P tidak masuk maka calon yang kuat adalah Ginandjar dan Hidayat. Hidayat sendiri dijagokan oleh PKS, partai kedua terbesar dalam partai koalisi pendukung SBY. "Jika pak SBY maunya Hidayat, berarti mengamankan partai koalisi," kata Bima.

Sedangkan suara Partai Golkar akan terpecah, ada yang ke Ginandjar ada yang ke Hidayat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau