Demi Bantu Korban Gempa, Suriadi Tinggalkan Anak Istri

Kompas.com - 04/10/2009, 08:22 WIB

PADANG, KOMPAS.com —Bagi perwira seksi Satuan Brimob Polda Sumbar AKP Suriadi (48), pekerjaannya sebagai pengayom masyarakat adalah amanah. Maka, begitu ditugaskan membantu mengevakuasi para korban gempa Sumatera Barat, khususnya yang berada di Hotel Ambacang, Padang, Suriadi mengaku tidak keberatan.

Sejak Rabu (30/9) lalu, Suriadi tak henti-hentinya merayapi celah-celah reruntuhan Hotel Ambacang guna mengevakuasi korban gempa, baik yang meninggal maupun yang diduga selamat. "Kita memang harus menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai keberadaan sanak keluarganya yang tertimbun reruntuhan. Ini untuk menghapus kekhawatiran mereka," ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (4/10) pagi di sekitar Hotel Ambacang.

Suriadi dan anak buahnya termasuk petugas yang pertama kali tiba di Hotel Ambacang yang luluh lantak Rabu silam. "Begitu sampai, saya dan teman-teman langsung memanjat tembok hotel dan masuk ke dalam. Alhamdulilah, kami dapat menyelamatkan beberapa korban bertahan," kenangnya. Korban pertama yang berhasil diselamatkan Suriadi dan teman-temannya adalah seorang ibu yang lututnya terimpit bebatuan yang menimpanya. Mereka juga menyelamatkan pramugari yang tertindih rangka bangunan. Demi menyingkirkan rangkaian besi yang menindihnya, Suriadi terpaksa menggunakan gergaji besi.

Tinggalkan Anak Istri

Ketika gempa terjadi, Suriadi terpaksa meninggalkan istri dan anak tunggalnya. Beberapa menit setelah gempa, Suriadi memang sempat berkomunikasi dengan istrinya. Namun, setelah itu jaringan telekomunikasi langsung lumpuh. Mengeluhkah mereka? "Alhamdulilah tidak. Mereka mengerti bahwa ini adalah risiko pekerjaan saya," ujar Suriadi yang telah 29 tahun mengabdi sebagai pengayom masyarakat itu.

Menangani korban gempa bukanlah pengalamannya yang pertama. Ketika tsunami memorakmorandakan Aceh pada 2004, Suriadi, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Komandan Kompi di Polres Aceh Besar, turut membantu mengevakuasi korban sejak hari pertama.

Ketika para ahli gempa memperkirakan gempa di Sumatera Barat bukanlah yang terakhir, Suriadi hanya berharap masyarakat semakin mengerti cara menyelamatkan diri ketika gempa melanda.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau