Yulia Sapthiani
KOMPAS.com — Bertandang ke rumah Swan Kumarga, tamu akan diterima di pantry atau dapur bersih. Kesan pertama memang agak aneh, tetapi di pantry itulah nyonya rumah pemilik Rumah Makan Dapur Solo itu merasa betah dan nyaman.
Swan mempersilakan kami duduk di kursi di dapur bersih (pantry). Di tempat inilah Swan biasa menerima tamu. Tamu bisa juga duduk di ruang keluarga yang letaknya lebih ke dalam.
”Saya biasa menerima tamu di sini atau di ruang keluarga. Dengan menerima tamu di sini, suasananya jadi tidak formal. Hubungan dengan tamu jadi terasa lebih terbuka,” kata Swan, perempuan asal Solo itu.
Kenyamanan ngobrol dengan pemilik rumah makin terasa dengan adanya suara gemercik air dari kolam ikan di taman yang letaknya tak jauh dari ruang tersebut. Pantry jadi terkesan dekat dengan alam karena dinding pantry yang berbatasan dengan taman itu berupa kaca. Selain membebaskan pandangan dari dalam rumah ke taman, kaca-kaca ini bisa membiarkan cahaya matahari masuk ke rumah yang dominan dengan warna putih tersebut.
Dinding pantry berwarna hijau apel. Di ruang itu terdapat perabot elektronik, seperti kulkas berwarna metalik, microwave, serta TV LCD yang menempel di dinding. Di atas meja tersedia berbagai camilan.
Rumah Swan yang berdiri di atas tanah seluas 200 meter persegi memang tak mempunyai ruang tamu. Di pantry itu terdapat meja makan warna hitam dengan kursi putih. Di sanalah tamu duduk. Meja makan ini terletak tepat di sebelah pantry. Swan bersama suaminya, Heru Kumarga, dan putri mereka, Karina Rosalin Kumarga, sering berkumpul di sini.
”Awalnya memang kaget juga melihat rumah jadinya seperti ini, pantry-nya di bagian depan. Tetapi, pada akhirnya memang di sinilah kami sering bersama. Apalagi saya memang suka makan dan saya sangat senang makan sambil ngobrol seperti ini,” kata Swan yang menghidangkan semangkuk mi kangkung buatannya.
Meski pembangunan rumah ini diserahkan sepenuhnya kepada arsitek, rumah tersebut bisa mewakili karakter pemilik rumah. Termasuk keberadaan pantry. Rupanya sang arsitek yang merupakan teman Swan itu tahu benar Swan yang suka masak.
Meski berhobi masak, Swan tidak menjadikan pantry sebagai tempat untuk melakukan kegemarannya tersebut. Hobi dilakukan di dapur kotor yang terletak di lantai satu. Pantry digunakan hanya untuk menyiapkan minuman, menghangatkan makanan, atau sekadar memasak mi instan.
Terbuka
Saat akan memasuki rumah Swan sempat ada kesan tertutup. Pasalnya ada tembok berwarna hitam yang membentengi rumah. Apalagi, lantai utama rumah di Sunter Paradise, Jakarta Utara, itu berada di ketinggian sekitar 2 meter dari permukaan jalan. Namun, begitu memasuki bagian dalam rumah, sifat terbuka sang pemilik sangat terasa.
Di samping rumah terdapat taman. Sesuai dengan tema rumah yang minimalis, taman ini hanya dihiasi satu pohon kamboja dan beberapa tanaman dalam pot. Di taman itu terdengar gemercik air yang berasal dari kolam ikan yang memanjang di salah satu sisi dinding.
Kesan artistik taman ini terlihat dari deretan kayu dolken dengan tinggi 10 meter yang berfungsi sebagai dinding di salah satu sisi. Kayu-kayu berwarna cokelat kekuningan ini dipasang sebagai aksen untuk melembutkan kesan keras.
Di sebelah pantry yang terletak di lantai utama berbentuk huruf L ini terdapat tangga dari kayu. Seperti bagian rumah lainnya, tangga ini juga terdiri dari warna putih dan hitam.
Selain menghubungkan lantai dua ke lantai tiga yang terdiri dari dua kamar, terdapat pula tangga ke arah lantai satu. Di sini terdapat dapur kotor, ruang cuci dan setrika, kamar pekerja, serta satu ruang besar yang masih dikosongkan. Swan berencana menjadikan ruang kosong ini sebagai tempat berolahraga.
Rumah Swan berjarak sekitar 20 meter dari Restoran Dapur Solo miliknya. Namun, Swan benar-benar memisahkan fungsi rumah sebagai tempat tinggal dan rumah makan sebagai tempat bekerja.
”Kalau membawa pekerjaan ke rumah, bisa-bisa saya akan bekerja terus. Saya kan orangnya workaholic. Di rumah yang sekarang, saya benar-benar memanfaatkan untuk beristirahat karena memang nyaman,” tutur Swan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang