Demokrat: Penambahan Komisi Bisa Memperlambat Kinerja

Kompas.com - 05/10/2009, 17:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Fraksi Demokrat Anas Urbaningrum mengatakan bahwa penambahan jumlah komisi bukan kebutuhan mendesak karena pembagian komisi yang sekarang dan pola mitra kerja dengan pemerintah sudah berjalan baik. Penambahan jumlah komisi di tubuh DPR dikhawatirkan akan berdampak pada postur dewan yang tambun ke depannya sehingga justru akan memperlambat kinerja dewan dalam menunaikan fungsinya. 

"Kami, Demokrat, menilai kalau ditambah 15 itu, komisi jadi tambun. Sementara 11 komisi sekarang sudah moderat, sudah mampu mencakup semua kepentingan," ucapnya di sela-sela rapat internal fraksi, Senin (5/10). Oleh karena itu, Demokrat tetap berharap jumlah komisi tetap 11 komisi.

Sementara itu, mekanisme pembagian ketua komisi ditentukan secara proporsional sesuai dengan perolehan kursi fraksi di DPR. Demokrat mengaku belum memutuskan posisi pimpinan di komisi-komisi. Menurut Demokrat, semua komisi memiliki peran masing-masing yang menunjang satu sama lain.

"Semua komisi itu penting. Tidak ada kasta komisi kelas satu atau kasta komisi kelas dua. Itu yang harus dimengerti semua pihak, seluruh urusan pemerintah dan pembangunan itu kan terkait dengan semua komisi yang ada. Jadi, kami menilai semua komisi itu memiliki peranan sama-sama penting dan sama-sama strategis," lanjutnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau