Waluyo Orang Lama di KPK

Kompas.com - 05/10/2009, 22:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Waluyo, Direktur Umum dan SDM PT Pertamina (Persero), merupakan orang lama di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan jabatan terakhirnya Deputi Bidang Pencegahan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyetujui tiga Plt pimpinan KPK, masing-masing Tumpak Hatorangan Panggabean, Komisaris PT Pos. Kemudian, Senior Advisor Program HAM United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, Mas Ahmad Santosa, dan Direktur Umum dan SDM Pertamina Waluyo.

Dari website PT Pertamina, Waluyo lahir di Klaten, 16 Desember 1956 dan pendidikan terakhirnya, Sarjana Teknik Mesin Universitas Trisakti, Jakarta, dan Magister Manajemen Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya, Jakarta.

Dalam karirnya, waluyo pernah menjabat sebagai Vice President Business Ethics and Assurance, BP Indonesia dan Deputi Bidang Pencegahan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sementara itu, Mas Ahmad Santosa, Senior Advisor Program HAM UNDP, adalah pendiri dan peneliti senior Indonesian Center for Environmental Law (ICEL).

Mas Ahmad Santosa lahir di Jakarta, 10 Maret 1956. Dirinya menyelesaikan Sarjana Hukum di Universitas Indonesia (UI) dan dia menjabat pula sebagai Ketua Ikatan Alumni (Iluni) FH UI 2007-2010. 

Penunjukan Plt Pimpinan KPK tersebut menyusul ditetapkannya sebagai tersangka dua pimpinan KPK yaitu Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto oleh kepolisian dan menurut UU KPK, maka keduanya diberhentikan sementara.

Sementara Antasari Azhar yang telah menjadi terdakwa dalam kasus dugaan pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen, kini telah dinonaktifkan dan akan menjalani persidangan perdananya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Kamis 8 Oktober 2009.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau