Hampir Terjadi Pemukulan di Munas Golkar

Kompas.com - 06/10/2009, 10:14 WIB

PEKANBARU, KOMPAS.com — Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar VIII, Selasa (6/10) di Hotel La Bersa Pekanbaru, Riau, ricuh dan hampir terjadi saling pukul di antara peserta. Hal itu disebabkan karena sarana mike yang bermasalah dan emosi yang tinggi dari anggota Munas.

Demikian diungkapkan oleh Ketua Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Partai Golkar Zainal Bintang kepada pers di sela-sela Munas yang baru saja dihentikan sementara. Adapun rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPP Partai Golkar Jusuf Kalla itu berlangsung tertutup.

Dikatakan Zainal, kericuhan terjadi pada sesi pertama saat pembahasan hak suara organisasi massa pendiri dan yang didirikan Partai Golkar.

"Sebenarnya masalahnya adalah di mikrofon sehingga komunikasi antara pimpinan sidang dengan peserta munas terganggu. Sering sekali Pak Kalla sebagai pimpinan sidang berteriak 'Apa? Saya tidak dengar. Yang keras,' sehingga peserta sempat menganggap pimpinan sidang otoriter," ujarnya.

"Hampir terjadi pemukulan ketika seorang yang mau bertanya tidak dapat memegang mike sehingga merebut mikrofon peserta lain. Dan di situlah terjadi kericuhan. Rapat sempat diskors oleh pimpinan sidang," lanjutnya.

Sementara itu, pers yang dilarang masuk dalam ruang sidang sempat melihat petugas kepolisian yang mengamankan Munas berlarian masuk dalam ruang Munas yang dijaga ketat oleh petugas saat kericuhan terjadi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau