PEKANBARU, KOMPAS.com — Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar VIII, Selasa (6/10) di Hotel La Bersa Pekanbaru, Riau, ricuh dan hampir terjadi saling pukul di antara peserta. Hal itu disebabkan karena sarana mike yang bermasalah dan emosi yang tinggi dari anggota Munas.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Partai Golkar Zainal Bintang kepada pers di sela-sela Munas yang baru saja dihentikan sementara. Adapun rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPP Partai Golkar Jusuf Kalla itu berlangsung tertutup.
Dikatakan Zainal, kericuhan terjadi pada sesi pertama saat pembahasan hak suara organisasi massa pendiri dan yang didirikan Partai Golkar.
"Sebenarnya masalahnya adalah di mikrofon sehingga komunikasi antara pimpinan sidang dengan peserta munas terganggu. Sering sekali Pak Kalla sebagai pimpinan sidang berteriak 'Apa? Saya tidak dengar. Yang keras,' sehingga peserta sempat menganggap pimpinan sidang otoriter," ujarnya.
"Hampir terjadi pemukulan ketika seorang yang mau bertanya tidak dapat memegang mike sehingga merebut mikrofon peserta lain. Dan di situlah terjadi kericuhan. Rapat sempat diskors oleh pimpinan sidang," lanjutnya.
Sementara itu, pers yang dilarang masuk dalam ruang sidang sempat melihat petugas kepolisian yang mengamankan Munas berlarian masuk dalam ruang Munas yang dijaga ketat oleh petugas saat kericuhan terjadi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang