PADANG PARIAMAN, KOMPAS.com - Korban gempa yang masih terisolir di Korong atau Dusun Koto Tinggi, Kanagarian Padang Alai, Kabupaten Padang Pariaman menderita diare dan penyakit infeksi saluran napas atau ISPA. Sebagian besar di antaranya adalah balita dan anak-anak. Mereka belum mendapatkan perawatan dan dikhawatirkan menambah jumlah korban meninggal bila tak segera diambil tindakan medis memadai.
Selain itu, korban gempa di Koto Tinggi belum mendapatkan tenda darurat, sementara rumah mereka hancur dan tak bisa ditempati lagi. Ketiadaan tenda darurat ini membuat warga Koto Tinggi tak memiliki perlindungan dari cuaca hujan maupun udara dingin. Koto Tinggi berada di ketinggian, daerah perbukitan yang berada di dekat kaki Gunung Singgalang.
Koto Tinggi dihuni sedikitnya 320 keluarga. Rata-rata mereka mengalami dampak buruk terjadinya gempa dan tanah longsor. Sudah banyak warga yang menderita penyakit dan belum dapat tertangani secara serius. "Mereka rata-rata menderita diare dan ISPA karena persoalan air bersih dan sanitasi. Warga Koto Tinggi kesulitan mendapatkan air bersih, sementara sarana untuk sanitasi juga tak ada akibat gempa," ujar petugas Posko Bantuan di Kabupaten Padang Pariaman Hendra Aswara, Selasa (6/10).
Pemerintah daerah dan berbagai lembaga yang menyalurkan bantuan ke Koto Tinggi, masih mencoba membuka iso lasi daerah tersebut. Akses jalan menuju Koto Tinggi, baik dari Padang Alai maupun dari Kecamatan Malalak di Kabupaten Agam tak bisa dilewati kendaraan roda empat akibat terputusnya jalan di beberapa titik. Bahkan terdapat jalan yang terputus hingga sepan jang satu kilometer, sementara yang tersisa hanya tanah yang rawan longsor.
"Bantuan obat-obatan dan makanan sedang diarahkan ke sana. Akan tetapi tenda tetap jadi permasalahan. Kami membutuhkan tenda sedikitnya hingga 30.000. Warga di Koto Tinggi hingga se karang masih berlindung di balik tenda bikinan sendiri yang kurang memadai, karena hanya berupa tikar atau terpal seadanya," ujar Hendra.
Warga di Koto Tinggi juga sangat membutuhkan air bersih serta perbaikan sarana sanitasi dalam waktu singkat. Menurut Hendra, laporan warga yang mendapatkan penyakit diare serta ISPA semakin meningkat. Beberapa penderita diare merupakan anak-anak usia di bawah lima tahun yang harus ditangani segera. Hendra mengungkapkan, balita yang menderita diare dan ISPA yang tak mendapat pertolongan medis memadai, dikhawatirkan bisa meninggal dunia di lokasi bencana.
Senin lalu, tim relawan dari Perancis sempat membuka klinik darurat dan m erawat sedikitnya 30 warga. Namun mereka tak bisa mengangkut banyak obat-obatan dan peralatan medis. Menurut dokter tim relawan Perancis tersebut, sebagian warga bahkan harus dirawat segera di rumah sakit. "Mereka tak mungkin tertangani hanya dengan tindakan darurat. Harus secepatnya dirawat di rumah sakit. Terutama yang menderita penyakit berat seperti jantung," katanya.
Menurut salah seorang warga masyarakat di Koto Tinggi Abdul Azis Sutan Bandaharo, sebagian warga menderita sesak nafas karena pengaruh debu reruntuhan rumah akibat gempa yang terhirup, ditambah bau busuk mayat yang belum dapat terevakuasi. "Bau mayat ini membuat kami sering mual-mual dan sesak nafas," katanya.
Hendra mengatakan, bantuan memang sudah mengalir ke Koto Tinggi, namun jumlahnya masih belum sesuai kebutuhan warga di sana. Bantuan juga masih didrop dari udara dengan cara yang seadanya. Bantuan seperti mie instan dijatuhkan begitu saja dari udara, sehingga banyak di antaranya rusak dan tak bisa dimakan begitu sampai ke darat.
Komandan Kodim Pariaman Letnan Kolonel Suhardono mengatakan, TNI terus berupaya membuka isolasi Koto Tinggi, termasuk dengan mendatangkan alat berat menyingkirkan longsoran tanah di jalan menuju ke sana. Namun Suhardono belum dapat memastikan, kapan alat berat tersebut bisa sampai ke Koto Tinggi mengingat terputusnya jalan menuju ke sana di beberapa titik cukup menyulitkan pergerakan alat berat tersebut. "Kami terus berupaya membuka keterisolasian Koto Tinggi," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang