Sebagian Besar Bangunan Cagar Budaya Sumbar Rusak

Kompas.com - 06/10/2009, 22:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com--Sebagian besar bangunan cagar budaya (BCD) yang terdapat di Sumatera Barat (Sumbar) rusak berat akibat gempa berkekuatan 7,6 SR pada Rabu lalu (20/9) yang menimpa wilayah itu.

"Hasil Tim Survei Kerusakan Benda Cagar Budaya Pasca-gempa Sumbar pada Minggu (4/10) menyebutkan, peninggalan BCB di lima kawasan Kota Padang umumnya rusak berat," kata Koordinator Crisis Center Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Dharma, di Jakarta, Selasa.

Gempa berkekuatan 7,6 skala richter itu telah meluluhrantakkan rumah, infrastrukur, dan bangunan fasiltas umum termasuk bangunan bersejarah yang masuk sebagai BCB di Kota Padang, Sumatera Barat.

Pihaknya mencatat di kawasan Batang Arau, Pasar Mudi, Pasar Malintang, dan Pasar Gadang  sebagian besar kondisi BCB mengalami rusak berat, rata-rata sekitar 80 persen.

"Sedangkan di kawasan Pasar Batimpuk, bangunan BCB  yang rusak hanya sebagian," katanya.

Dari kelima kawasan yang disurvei tersebut diketahui merupakan daerah yang mempunyai tinggalan bangunan BCB di masa Kolonial Belanda yang berjumlah sekitar 50 unit bangunan.

Tim survei melaporkan, umumnya kerusakan terjadi pada struktur bangunan yang rata-rata memang telah berumur puluhan tahun itu.

Gedung Perpustakaan dan Arsip Nasional Sumbar juga dilaporkan dalam kondisi rusak berat bahkan ambruk.

Bangunan lain yang juga menyimpan berbagai koleksi sejarah yakni Museum Adityawarman mengalami rusak ringan bagian belakang sedangkan Taman Budaya Sumbar rusak di bagian luar.

"Depbudpar bersama Dinas Budpar Sumbar menurunkan tim teknis untuk mensurvei BCB yang ada di Kota Padang sekitarnya, Kota Pariaman sekitarnya, dan Kota Bukittinggi sekitarnya serta mendata kerusakan bangunan akibat terkena gempa berkekuatan 7,6 SR pada Rabu (20/9) lalu," katanya.

Sebelumnya, Depbudpar menyatakan telah membentuk crisis center sebagai salah satu respon menghadapi bencana gempa di Sumbar.

"Crisis center kita bentuk sebagai wadah informasi bagi publik yang berkaitan dengan pariwisata di Sumbar pasca-gempa," kata Surya Dharma.

Ia mengatakan, crisis center itu menyediakan segala macam informasi termasuk mengakomodasi wisatawan yang menjadi korban bencana tersebut.

Crisis center juga menyiapkan diri untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan travel biro dan pemangku kepentingan dalam sektor pariwisata di Sumbar.

"Langkah pertama yang kami lakukan adalah menyiapkan media center dan perangkat telekomunikasi," katanya.

Selanjutnya, pihaknya sesegera mungkin mempelajari situasi yang ada pasca-gempa untuk kemudian melakukan gerakan pemulihan pariwisata pasca-gempa.

"Pada intinya crisis center bidang Kebudayaan dan Pariwisata ini dibentuk sebagai upaya membantu memberikan informasi kepada masyarakat seputar perkembangan kejadian peristiwa tersebut," katanya.

Crisis center Depbudpar di Padang akan dipusatkan di Inna Muara Hotel Padang, Jalan Gereja No.34 Padang, Telefon +62 75135600 dan 35365 (faksimile: 75131163) dan terhubung dengan crisis center di Pusat Informasi dan Humas Depbudpar Jakarta di Gedung Sapta Pesona Lantai II Ruang Press Room , Jalan Merdeka Barat No.17 Jakarta Pusat. Telefon: 3838169 Fax: 3854237 Email: humas@budpar.go.id.

Dalam pembentukan crisis center gempa Sumbar Surya Dharma, Kepala Pusat Informasi dan Humas (Kapusformas) (Hp:081382768082), ditunjuk sebagai koordinator didampingi oleh Burhanudin, Kepala Bidang Informasi dan Publikasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau