"Dinamika Politik" yang Bisa Bikin Malu

Kompas.com - 07/10/2009, 08:34 WIB

Gonjang-ganjing dan friksi antarpendukung calon Ketua Umum Partai Golkar sejak beberapa bulan lalu sebelum Musyawarah Nasional VIII Partai Golkar akhirnya menemukan ”ujung”-nya pada awal rapat paripurna pertama Munas.

Memang tak sampai terjadi adu jotos atau lempar kursi antarpendukung, tetapi, mau tidak mau, saling dorong dan caci maki yang terjadi saat pembahasan Tata Tertib Munas bisa dan akan mempermalukan Ketua Umum Golkar M Jusuf Kalla.

Tidak heran, meskipun terlihat tenang, Kalla tak bisa menutupi raut wajahnya yang tampak gusar. Ia juga harus berteriak melalui mikrofon agar petugas keamanan turun tangan mengamankan jalannya sidang paripurna Munas.

”Tolong-tolong, petugas keamanan membantu mengamankan jalannya sidang paripurna ini,” ujar Kalla beberapa kali dari meja pimpinan sidang di sebuah hotel bintang lima di Pekanbaru, Riau, Selasa (6/10). Tak lama terlihat sejumlah anggota Polri berpakaian dinas berlarian dan masuk ke ruang sidang.

Wartawan yang menunggu rencana keterangan pers yang akan digelar calon Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie, di lantai II hotel itu segera berhamburan turun ke ruang sidang paripurna Munas saat melihat petugas berlarian masuk ruang sidang.

Namun, karena sidang tertutup, pers hanya melihat dari sela-sela pintu ruang sidang yang terkuak saat petugas keamanan atau peserta Munas terburu-buru masuk ruangan sidang. Hajriyanto J Thohari, Wakil Ketua MPR asal Partai Golkar, juga terlihat buru-buru masuk ruang sidang.

Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), karena Kalla menjabat Wakil Presiden, yang berdiri di sudut ruangan sidang paripurna Munas terlihat bersiaga. Dari sarana komunikasi antaranggota Paspampres yang terletak di tangan kiri, terlihat mereka saling berhubungan dan berkoordinasi. ”Kalau ada yang membahayakan Wapres, kita harus bertindak,” bisik anggota Paspampres di sebelah Kompas.

Petugas keamanan wilayah, yang berpakaian seragam dan menggenggam walkie talkie, terlihat panik dan segera meloncat ke tengah kerumunan peserta yang terlibat adu mulut dan saling dorong itu.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar Yorris Raweyai ikut berlari melerai peserta Munas, yang jika tidak segera dipisahkan bisa terlibat adu jotos di hadapan Kalla. Ketua Departemen Hukum dan HAM DPP Golkar Idrus Marham juga terlihat ikut-ikutan melerai.

Tak lama kemudian, dua peserta Munas yang berjaket kuning dipaksa keluar dari ruang sidang oleh petugas.

Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengatakan, kejadian itu adalah dinamika politik biasa di setiap Munas Golkar. Kejadian itu akan bisa diselesaikan. ”Dinamika politik itu biasa dan kita bisa menyelesaikannya. Tetapi, jangan sampai mempermalukan Golkar dan terutama Pak Kalla sebagai Wapres,” ujarnya lagi.

Namun, Ketua Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Zainal Bintang menyatakan, kejadian itu bisa saja upaya untuk mempermalukan Golkar dan Kalla. ”Tetapi, untung ada Golkar sejati yang berjaga-jaga sehingga kericuhan tidak berlarut-larut,” katanya.

Zainal heran, sumber masalah yang menyebabkan kericuhan dalam sidang, selain mik dan perangkat tata suara (sound system) yang ngadat sehingga terjadi rebutan antarpeserta, juga karena akumulasi persaingan antarpendukung calon ketua umum yang sudah terpolarisasi. ”Jadi, mereka pun gampang tersulut dengan keributan kecil,” katanya lagi.

Ia berharap tidak ada upaya kesengajaan untuk membuat sidang buntu sehingga aib menimpa Golkar dan Kalla yang kini masih menjadi penanggung jawab partai. (SUHARTONO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau