Ribuan Ikan Mati di Laut Timor, Diduga Tercemar Tumpahan Minyak

Kompas.com - 07/10/2009, 19:57 WIB

KUPANG, KOMPAS.com  - Ribuan ekor ikan berbagai jenis, mati mengapung di atas wilayah perairan Laut Timor, yang diduga kuat akibat tercemarnya wilayah perairan tersebut dari tumpahan minyak mentah (crude oil).   Tumpahan tersebut terjadi setelah meledaknya ladang minyak Montara pada 20 Agustus lalu.

Matinya ikan-ikan tersebut, terlihat dari rekaman kamera telepon genggam milik para nelayan Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang baru pulang melaut dari wilayah perairan bebas antara Australia-Indonesia, Rabu (7/10).

"Kami mendapatkan ikan-ikan yang mati itu pada kordinat 11-39 LS dan 124-30 BT," kata Gab Oma (33), seorang nelayan asal Oesapa Kupang kepada para wartawan sambil menunjukkan rekaman peristiwa tersebut dari kamera telepon genggamnya.

"Ikan-ikan sebagiannya sudah membusuk. Kami sempat membawa beberapa ekor sebagai barang bukti, namun terpaksa dibuang ke laut karena aromanya sangat tidak sedap," katanya menambahkan.

Ia bersama 17 orang nelayan Oesapa lainnya, baru pulang melaut dari wilayah perairan Laut Timor dengan menggunakan dua buah perahu motor.

"Kami pulang hanya membawa empat ekor ikan kakap merah, dari biasanya ratusan ekor yang didapat dalam tempo sehari semalam dengan cara memancing dan memanah," katanya.

Haji Mustafa (34), salah seorang nelayan lainnya yang juga Ketua Aliansi Nelayan Tradisional Laut Timor (Antlamor), mengatakan, wilayah perairan yang tercemar saat ini merupakan basisnya kakap merah yang biasa dicari para nelayan. "Kami optimistis, ikan-ikan yang ada di wilayah perairan Laut Timor akan mencari wilayah perairan lain atau mati, karena sudah tercemar minyak mentah," ujarnya.

Gab Oma menambahkan, ketika mereka berada pada kordinat 10-30 LS dan 24-30 BT, mereka mendapatkan gumpalan minyak mentah di wilayah perairan sekitar 20 mil dari Pantai Tablolong, Kupang Barat atau sekitar 30 mil dari pantai selatan Kolbano, wilayah Timor Tengah Selatan (TTS).

Gumpalan minyak mentah berwarna putih yang dimasukkan dalam jerigen itu, kemudian dibawa pulang sebagai barang bukti tentang adanya pencemaran minyak mentah di Laut Timor.

Namun, Pangkalan Utama TNI-AL (Lantamal) VII Kupang, dalam operasinya penyisiran beberapa waktu lalu, tidak menemukan adanya tumpahan minyak mentah di perairan yang diduga sebagai lokasi pencemaran.

Menurut laporan Otorita Keselamatan Maritim Australia (AMSA-Australian Maritime Safety Authority) kepada Departemen Perhubungan Laut Departemen Perhubungan Indonesia menyebutkan, pencemaran minyak mentah itu sudah mencapai sekitar 51 mil laut dari Pulau Rote, NTT.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau