Sidang Perdana Antasari Diwarnai Kericuhan

Kompas.com - 08/10/2009, 10:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pembacaan dakwaan Antasari Azhar oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) sempat diwarnai perdebatan antara pihak terdakwa dan JPU di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (8/10). Sidang diketuai Hakim Herri Swantoro dan dua anggota Nugroho Setiadji dan Prasetyo Ibnu A. Sedangkan jaksa penuntut umum (JPU) diketuai Sirrus Sinaga.

Usai pembacaan dakwaan oleh JPU sekitar 30 menit, hakim menanyakan kepada terdakwa apakah mengerti dengan dakwaan yang dibacakan. "Sangat sangat tidak mengerti. Siapa yang membujuk dan siapa yang dibujuk?" jawab Antasari.

Majelis hakim pun meminta JPU menerangkan secara lisan dakwaan. Salah satu jaksa kemudian menjawab, "Yang didakwa Antasari Azhar adalah perbuatan melakukan pembujukan secara bersama-sama dengan Sigit Haryo Wibisono dan Williardi Wizar untuk melakukan pembunuhan menghilangkan nyawa Nasarudin Zulkarnaen. Orang yang dibujuk saksi adalah Eduardus Ndopo Mbete alias Edo," jelas Jaksa.

Mendengar penjelasan Jaksa, pihak Antasari langsung menyoraki karena selama pembacaan dakwaan tidak disebutkan Antasari membujuk Edo melainkan Williardi Wizar. JPU Sirrus kemudian meralat penjelasan kemudian dengan nada tinggi mengatakan, "Kenapa tidak paham? Saya kira Antasari Azhar bekas jaksa pasti memahami," ucap dia kesal.

Sidang pun ricuh. Lontaran emosi terlontar dari kedua pihak. Majelis pun kemudian menenangkan sidang. Tak lama berselang, ketua majelis hakim lalu menanyakan bagaimana jawaban terdakwa atas dakwaan JPU. Setelah meminta waktu sejenak Antasari pun menyatakan keberatan dan akan mengajukan eksepsi atas dakwaan tersebut.

Tim penasihat hukum Antasari lantas meminta waktu satu minggu untuk menyusun eksepsi tersebut. Permintaan itu dikabulkan majelis hakim dan sidang pun ditunda hingga Kamis, 15 Oktober mendatang, dengan agenda pembacaan eksepsi. Sesaat setelah palu diketuk, Antasari dan tim penasihat hukumnya langsung meninggalkan ruang sidang. Sebelum keluar Antasari sempat memberikan pernyataannya kepada wartawan, masih dengan raut muka yang tegang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau