Spirit Wajah-wajah Baru Pimpinan Golkar di Bawah Ical

Kompas.com - 08/10/2009, 11:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah muka baru seperti Letjen TNI Purnawirawan Luhut Panjaitan dan tokoh perempuan NU, Kofifah Indar Parawansa, disebut-sebut bakal berada pada barisan orang-orang baru yang menghiasi komposisi DPP Partai Golkar periode 2009-2015 di bawah nakhoda Ketua Umum baru, Aburizal Bakrie.
     
Demikian rangkuman pendapat yang dikumpulkan usai Sidang Paripurna VII dengan agenda Pemilihan Ketua Umum di arena Musyawarah Nasional (Munas) VIII Partai Golkar pada Kamis (8/10) subuh mengumumkan Aburizal Bakrie memperoleh 296 dukungan suara, sementara rival terberatnya Surya Paloh memperoleh 240 suara.
     
"Bagi saya, kehadiran muka-muka baru itu tidak begitu penting. Yang paling utama bagi Partai Golkar sekarang ialah bagaimana membangkitkan kembali spirit karya-kekaryaan dan ideologi partai yang tangguh agar bisa memberi kontribusi strategis bagi kemajuan bangsa serta kesejahteraan rakyat," kata Palar Batubara, mantan anggota DPR RI dari Partai Golkar periode lalu.
     
Ketua Presidium Persatuan Alumni (PPA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini menambahkan, penguatan spirit dan ideologi yang diimplementasikan melalui konsolidasi organisasi, kaderisasi serta program konkret di lapangan itu, untuk menepis anggapan, Partai Golkar telah dirasuk oleh semangat pragmatisme, juga neo-liberalisme.
     
Lebih dari itu, ia sependapat dengan analisis beberapa rekannya di lingkup elite Partai Golkar, Munas VIII sesungguhnya harus dimaknai sebagai kesiapan menghadapi Pemilu 2014.

Motivasi Baru

Hampir senada dengan itu, Ferry Mursyidan Baldan yang juga mantan anggota DPR RI menambahkan, kesiapan partai ini menghadapi Pemilu tersebut, bisa dilihat pada beberapa indikator.
     
"Yakni, bahwa dari arena Munas sekarang, kelihatan sejumlah indikator yang terukur, seperti adanya spirit dan motivasi baru, yakni dengan menempatkan sekitar 70 persen pengurus muka baru, sebagian besar dari kader berusia muda," ungkap alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang juga Pimpinan Ikatan Alumni Universitas Padjajaran, Bandung, ini.
     
Proporsi dalam kepengurusan DPP Partai Golkar periode mendatang itu menjadi penting, karena menurutnya, itu bukan saja sebagai cerminan energi dan spirit baru dalam mengemban tugas menghadapi tantangan kehidupan berpartai, tetapi juga merupakan penyiapan regenerasi di internal partai.
     
"Tetapi juga sekaligus sebagai instrumen untuk menarik kaum muda dalam Pemilu 2014," ujarnya.
     
Keharusan Partai Golkar mewujudkan komposisi 70 persen muka baru (sebagian besar anak muda) dalam kepengurusan ke depan itu, demikian Ferry Mursyidan Baldan, juga sebagai simbol kehendak partai berlambang pohon beringin ini untuk terjadinya regenerasi dalam pentas kepemimpinan nasional pada 2014.
     
"Dengan demikian, maka kehendak untuk mewujudkan regenerasi dalam kepemimpinan nasional harus dimulai dari internal partai politik," ujar Ferry Mursyidan Baldan yang enggan menanggapi isu santer dimasukkannya orang-orang baru seperti Letjen Luhut Panjaitan serta Kofifah Indar Parawansa tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau