JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah muka baru seperti Letjen TNI Purnawirawan Luhut Panjaitan dan tokoh perempuan NU, Kofifah Indar Parawansa, disebut-sebut bakal berada pada barisan orang-orang baru yang menghiasi komposisi DPP Partai Golkar periode 2009-2015 di bawah nakhoda Ketua Umum baru, Aburizal Bakrie.
Demikian rangkuman pendapat yang dikumpulkan usai Sidang Paripurna VII dengan agenda Pemilihan Ketua Umum di arena Musyawarah Nasional (Munas) VIII Partai Golkar pada Kamis (8/10) subuh mengumumkan Aburizal Bakrie memperoleh 296 dukungan suara, sementara rival terberatnya Surya Paloh memperoleh 240 suara.
"Bagi saya, kehadiran muka-muka baru itu tidak begitu penting. Yang paling utama bagi Partai Golkar sekarang ialah bagaimana membangkitkan kembali spirit karya-kekaryaan dan ideologi partai yang tangguh agar bisa memberi kontribusi strategis bagi kemajuan bangsa serta kesejahteraan rakyat," kata Palar Batubara, mantan anggota DPR RI dari Partai Golkar periode lalu.
Ketua Presidium Persatuan Alumni (PPA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini menambahkan, penguatan spirit dan ideologi yang diimplementasikan melalui konsolidasi organisasi, kaderisasi serta program konkret di lapangan itu, untuk menepis anggapan, Partai Golkar telah dirasuk oleh semangat pragmatisme, juga neo-liberalisme.
Lebih dari itu, ia sependapat dengan analisis beberapa rekannya di lingkup elite Partai Golkar, Munas VIII sesungguhnya harus dimaknai sebagai kesiapan menghadapi Pemilu 2014.
Motivasi Baru
Hampir senada dengan itu, Ferry Mursyidan Baldan yang juga mantan anggota DPR RI menambahkan, kesiapan partai ini menghadapi Pemilu tersebut, bisa dilihat pada beberapa indikator.
"Yakni, bahwa dari arena Munas sekarang, kelihatan sejumlah indikator yang terukur, seperti adanya spirit dan motivasi baru, yakni dengan menempatkan sekitar 70 persen pengurus muka baru, sebagian besar dari kader berusia muda," ungkap alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang juga Pimpinan Ikatan Alumni Universitas Padjajaran, Bandung, ini.
Proporsi dalam kepengurusan DPP Partai Golkar periode mendatang itu menjadi penting, karena menurutnya, itu bukan saja sebagai cerminan energi dan spirit baru dalam mengemban tugas menghadapi tantangan kehidupan berpartai, tetapi juga merupakan penyiapan regenerasi di internal partai.
"Tetapi juga sekaligus sebagai instrumen untuk menarik kaum muda dalam Pemilu 2014," ujarnya.
Keharusan Partai Golkar mewujudkan komposisi 70 persen muka baru (sebagian besar anak muda) dalam kepengurusan ke depan itu, demikian Ferry Mursyidan Baldan, juga sebagai simbol kehendak partai berlambang pohon beringin ini untuk terjadinya regenerasi dalam pentas kepemimpinan nasional pada 2014.
"Dengan demikian, maka kehendak untuk mewujudkan regenerasi dalam kepemimpinan nasional harus dimulai dari internal partai politik," ujar Ferry Mursyidan Baldan yang enggan menanggapi isu santer dimasukkannya orang-orang baru seperti Letjen Luhut Panjaitan serta Kofifah Indar Parawansa tersebut.