LONDON, KOMPAS.com - Penyerang Chelsea, Didier Drogba mengatakan, ia ingin meraih semua gelar musim ini. Namun, bila disuruh memilih, ia akan menjadikan trofi Liga Champions sebagai target utama, ketimbang Premier League.
Drogba dan pemain Chelsea lainnya tidak terlalu bernafsu menjuarai Premier League. Pasalnya, mereka sudah pernah mencicipi trofi itu dua musim berturut-turut, yaitu pada musim 2004-2005 dan 2005-2006.
Setelah sukses membuktikan eksistensi diri di pentas lokal, tidak berlebihan bahwa kemudian Chelsea memasang target menaklukkan Eropa. Namun, peruntungan mereka di Liga Champions memang kurang bagus. Berhasil lolos sampai babak semifinal dalam lima dari enam musim terakhir, Chelsea selalu gagal mengakhiri kompetisi sebagai juara.
Meski begitu, Drogba tidak pernah putus asa. Ia yakin, kehadiran pelatih Carlo Ancelotti mementahkan kutukan Chelsea di Eropa dan akan berhasil mengangkat trofi Liga Champions musim ini.
"Merebut gelar Premier League dari Manchester United tentu saja sangat penting. Namun, aku tidak pikir, bukan rahasia bahwa Liga Champions telah menjadi obsesi bagi sejumlah pemain Chelsea. Sebelumnya kami pernah berada sangat dekat (dari trofi Liga Champions) dan ketika Anda gagal, itu menyakitkan. Sangat menyakitkan," ujarnya.
Pengalaman paling menyakitkan Chelsea adalah mereka disingkirkan Barcelona di semi final musim lalu. Saat itu, Chelsea tersingkir menyakitkan setelah bermain imbang 1-1 di leg kedua (agregat 1-1) di Stamford Bridge. Chelsea tersingkir karena kalah agresivitas di kandang lawan.
Chelsea menilai, saat itu, wasit Tom Henning Ovrebo tidak memimpin laga leg kedua dengan adil sehingga merugikan Chelsea. Drogba termasuk salah satu yang melakukan protes keras kepada wasit. Ia pun akhirnya mendapat sanski skrosing tiga laga Liga Champions.
"Itu sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan (protes kepada Ovrebo) karena pendukung menyaksikanku. Aku sangat marah. Ketika sesuatu berarti besar bagi Anda, sangat sulit mengendalikan emosi. Namun, itu (marah) bukanlah penyaluran yang benar," akunya.
Prestasi terbaik Chelsea adalah ketika mereka berhasil tampil di final Liga Champions 2007-2008 melawan Manchester United. Namun, mereka terpaksa puas menjadi runner-up setelah dipaksa menyerah lewat adu penalti. (DM)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang