YOGYAKARTA, KOMPAS -
Pendiri dan pembina Paguyuban Mandor Bangunan Tahan Gempa, Sarwidi, di Yogyakarta, Kamis (8/10), mengatakan, para mandor telah dilatih secara bertahap sejak tahun 2004. Mereka berasal dari daerah rawan gempa di lima provinsi di Pulau Jawa.
”Mereka adalah mandor di daerah pedesaan yang mendapat pelatihan pembangunan bangunan rumah rakyat tahan gempa (barrataga) yang dikembangkan di UII (Universitas Islam Indonesia). Tempat tinggal mereka tersebar, tetapi siap dihubungi untuk membantu pembangunan di Sumbar atau daerah lain,” kata Sarwidi, yang juga peneliti bangunan tahan gempa dari UII Yogyakarta.
Menurut Sarwidi, kompetensi para mandor dalam membangun barrataga telah diuji oleh tim teknik kegempaan UII.
Di Bandung, Ketua Palang Merah Indonesia Mar’ie Muhammad menyebutkan, pihaknya segera membangun rumah bambu untuk tempat tinggal sementara korban gempa di Sumbar. Rumah bambu itu berukuran 4 meter x 6 meter dan masing-masing dibangun dengan biaya Rp 2,5 juta. Satu rumah dapat dihuni satu keluarga dan bisa bertahan dua tahun.
”Kemungkinan besar lebih dari 3.000 rumah, tergantung dari dana yang kami himpun,” ujar Mar’ie.