Setiap 100 Meter Ditawari Miyabi

Kompas.com - 09/10/2009, 09:11 WIB

HO CHI MINH, KOMPAS.com — Vietman, terutama di kota industri Ho Chi Minh, memang semakin berkembang pesat. Kehidupan modern semakin terasa. Terutama meningkatnya industri wisata di sana, tak terelakkan juga merangsang pertumbuhan perdagangan seks.

Ada beberapa distrik tertentu yang menjadi pusat perdagangan seks meski tak resmi. Kadang transaksi juga dilakukan di kelab-kelab malam atau kafe-kafe.

Hotel-hotel yang bertebaran di pusat Kota Ho Chi Minh (Saigon) tak luput dari aktivitas ini. Para penjaja seks justru paling suka memburu tamu-tamu hotel sebab asumsinya mereka berduit tebal.

Begitu waktu menunjukkan pukul 22.00, akan terlihat cukup jelas. Jika sebelumnya jarang terlihat wanita yang berdandan menor dan berpakaian seksi, tiba-tiba bermunculan. Ada yang jalan kaki, ada pula yang naik motor.

Mereka tidak terlalu aktif menjajakan diri. Tapi, gerakan dan mimik menggoda begitu terasa. Untuk memastikannya, bisa menanyakan kepada tukang ojek atau becak. Jika mereka mengatakan bisa, maka bisa pula diajak tawar-menawar.

Biasanya, para wanita penjaja seks memakai makelar. Dan, makelarnya rata-rata sopir taksi, tukang ojek, dan becak. Terkadang para makelar itu cuma duduk-duduk di pinggir jalan, seolah-olah sibuk SMS.

Jika Anda menyusuri jalan-jalan di pusat Kota Ho Chi Minh, maka tiba-tiba akan dikejar atau dicegat seorang pria.

"Mister, you want a woman? Look at this. Beautiful, young, good quality, and safe."

Artinya, "Tuan, Anda menginginkan wanita? Lihat ini. Cantik, muda, kualitas baik, dan aman."

Begitu cara mereka menawarkan kliennya. Kemudian, dengan cepat mereka menunjukkan gambar wanita yang dimaksud di telepon selular mereka. Begitu dilihat, ternyata gambar itu adalah Miyabi, aktris porno dari Jepang yang sedang menjadi pembicaraan di Indonesia. Walah, ada-ada saja cara mereka memperdagangkan seks.

Herannya, baru berjalan 500 meter saja, sudah ada lima orang yang menawari wanita penjaja seks. Dan, sering mereka menunjukkan gambar Miyabi di HP mereka. Jika dirata-rata, setiap jalan 100 meter ditawari "Miyabi".

Rupanya, Miyabi memang menjadi model ideal dan favorit hingga menjadi bahan penipuan. Jelas, jika Anda bersedia memakai jasanya, maka yang disodorkan wanita lain. Bukan Miyabi, tentunya.

Iseng-iseng bertanya harga, ternyata ada harga yang standar. "Only 40 dollar, Sir. You will be satisfied. I Guarantee. Not expensive!" kata si calo itu, yang artinya, "Hanya 40 dollar (sekitar Rp 400.000), Tuan. Anda akan puas. Saya jamin, deh. Tak mahal."

Walaupun menolak, mereka akan terus menawar dengan seribu jurus rayuan. Bahkan, ketika kita beralasan datang ke Vietnam bersama istri, maka dia tetap tak menyerah.

"Istri Anda tak akan tahu. Anda bisa membawa ke hotel lain. Saya punya tempatnya. Sewa kamarnya murah," begitu jawabnya.

Meski begitu, ada pula yang langsung bertransaksi dengan wanita penghibur. Biasanya, sang wanita itu berjalan sendirian atau sekadar mondar-mandir di dekat hotel. Nah, bagi lelaki hidung belang, tak sulit mendekatinya. Dia segera melemparkan rayuan maut, tawar-menawar, kemudian sudah bisa jalan berdua entah ke mana.

Tentu, dalam transaksi langsung tanpa perantara itu, sang wanita tak berani mengaku Miyabi.

Oh, Miyabi....Miyabi.... (HPR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau