JAKARTA, KOMPAS.com — Meski telah menyewa kamar kos lebih dari satu bulan, Sony yang kamarnya hari ini menjadi target penggerebekan tim Densus 88 tidak pernah memberikan identitas. "Waktu awal menyewa saya sudah minta, tapi belum juga dikasih," ujar Suwarni, penjaga rumah kos di Jalan Semanggi II, Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat, Jumat (9/10).
Siang tadi kamar yang disewa atas nama Sony tersebut menjadi target penggerebekan tim Densus 88. Kamar tersebut diduga menjadi persembunyian buronan teroris Bom Kuningan, M Syahrir dan Syaifudin Zuhri.
Suwarni menuturkan, dirinya sempat beberapa kali meminta Sony untuk menyerahkan salinan identitas, tetapi permintaan tersebut tidak dipenuhi oleh Sony. "Namanya anak muda, mungkin lupa," ucap wanita setengah baya ini.
Suwarni mengatakan, Sony jarang bergaul dengan dirinya ataupun penghuni kos lainnya. Sony selalu meninggalkan kamar kosnya pada pagi hari dan kembali saat malam. Kepada Suwarni, Sony mengaku sebagai mahasiswa jurusan sains dan teknologi semester akhir. Sony juga mengaku bekerja di daerah Sudirman, tetapi dia tidak menjelaskan secara detail pekerjaannya tersebut.
Mengenai dua orang yang juga menempati kamar Sony, Suwarni mengaku tidak mengetahui identitas kedua pria tersebut. Keduanya baru beberapa hari menempati kamar tersebut. Sony tidak pernah memperkenalkan kedua rekannya kepada Suwarni.
Hal senada juga disampaikan Irawan, Ketua RT 2 RW 3. Menurutnya, baik Sony maupun pemilik rumah kos tidak pernah memberikan identitas mereka. "Saya belum dapat identitas, biasanya pemilik kos yang melaporkan," kata dia.
Irawan mengatakan, dia juga belum pernah bertemu dengan Sony. Ia hanya mendengar bahwa semua mahasiswa yang menyewa kamar pada rumah kos tersebut berkuliah di Universitas Islam Negeri Jakarta. "Selama ini baik-baik saja, layaknya mahasiswa. Kalau kumpul-kumpul itu hal biasa," kata dia.
Irawan juga tidak mengetahui dua orang yang juga menempati kamar seharga Rp 480.000 per bulan itu. Setelah kejadian, dirinya baru mendapat kabar dari sang pemilik rumah kos. Menurut pemilik rumah kos, dia belum menyewa secara resmi kamar di rumah kos tersebut. "Baru kasih DP Rp 100.000. Tapi belum menyewa secara resmi, baru dua hari menginap," ucapnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang