Properti di Bali Tetap Bergairah

Kompas.com - 10/10/2009, 07:39 WIB

KOMPAS.com — BALI tetap bergairah. Ketika resesi global berlangsung baru-baru ini, turis mancanegara tetap lalu-lalang di Pulau Seribu Pura tersebut. Seolah tak mengenal krisis, mereka tetap asyik melancong menikmati Pulau Dewata.

Ramainya kunjungan para pelancong telah mendatangkan berkah bagi sektor properti di Bali, termasuk para pengusaha properti kelas mini. Maklum, di saat krisis menerjang, permintaan properti di Bali justru meningkat. Padahal, suplai properti, khususnya di sektor komersial, masih terbilang minim.

Tentu ini peluang bisnis yang menarik. Karena itu, jangan heran banyak pengusaha berlomba-lomba berinvestasi properti di Bali, terutama dalam rupa vila, resor, ataupun apartemen kecil.

“Selama Bali menjadi daerah tujuan wisata favorit, investasi properti tetap menjanjikan,” kata Tati Wilson, pemilik Villa Balian Riverside Sanctuary.

Tati terjun ke bisnis properti sejak tahun 2005. Ia memilih Bali karena yakin prospeknya sangat cerah. Dia memilih lokasi di Desa Pengasahan, Tabanan, Bali Barat. Panorama alam di sini cukup memikat karena menawarkan pemandangan pantai, serta hamparan sawah dan Sungai Balian.

Lokasi vila milik Tati bersebelahan dengan Sungai Balian dan hanya berjarak 100 meter dari Pantai Balian yang cocok untuk surfing. Di sini Tati membangun dua buah vila bernama Alamanda dan Bougenvillea. “Kami menjualnya seharga 325.000 euro per unit,” tutur dia.

Vila milik Tati cukup artistik karena telah dilengkapi gazebo ala Bali dan taman tropis.

Selain itu, bangunan vila juga terbuat dari berbagai bahan alami, seperti batu alam, bambu, dan atap alang-alang. Sejatinya, bentuk bangunan ini mengadopsi hunian ala Sumatera, tetapi dilengkapi berbagai hiasan dan pernak-pernik khas Bali.

Kedua vila ini sudah dilengkapi dengan perabotan (fully furnished). Di lantai pertama ada dapur, kamar mandi, dan ruangan santai yang dilengkapi televisi dan DVD player. Sedangkan di lantai atas terdiri dari kamar tidur dan balkon. Semua fasilitas ini diharapkan bisa membuat tamu kerasan.

Selain itu, ada juga bangunan lobi yang menyediakan ruangan khusus untuk karyawan, dapur, dan ruangan mencuci (laundry room). Pemilik Balian Riverside pun menjanjikan pasokan air bersih dan listrik memadai.

Dengan semua fasilitas dan keindahan alam ini, Balian Riverside Sanctuary menawarkan kepemilikan freehold atau hak milik. Selama ini, dua vila yang berkapasitas sampai empat orang itu disewakan dengan harga antara Rp 520.000 sampai Rp 620.000 per malam.

Selain Balian Riverside Sanctuary, Tati juga memiliki vila lain yang dia juluki Pondok Pisces Bungalows. Lokasinya tidak jauh dari Balian Riverside. Di Pondok Pisces ini Tati menawarkan tiga buah bungalo untuk disewakan: Timor House, Two Storey Bungalow, dan Beach House. Tarif sewa rumah-rumah pengasoan itu antara Rp 250.000 sampai Rp 570.000 per unit semalam.

Booming properti

Bukan cuma Tati investor properti yang menyerbu Desa Pengasahan. Kini, cukup banyak juga investor asing masuk ke kawasan ini. Akibatnya, desa ini mengalami booming properti. Umumnya, bangunan properti di desa ini memang berbentuk vila. “Dalam delapan tahun terakhir, banyak vila-vila baru dimiliki orang asing,” kata Tati.

Kondisi ini membuat nilai investasi properti seperti tanah dan rumah meningkat cukup tajam. Selama tujuh tahun terakhir, misalnya, harga tanah di Tabanan telah naik lima kali lipat. Data baliproperti.com menyebutkan, harga tanah di Tabanan kini telah mencapai kisaran Rp 1 juta per meter persegi (m²).

Meski begitu, tetap saja banyak investor yang hendak berinvestasi di daerah ini. Apalagi, ke depan, kawasan ini dipastikan bakal berkembang lagi. Soalnya, pemerintah akan membangun bandara internasional di kawasan Bali Barat, tepatnya di Kabupaten Jembrana.

Saat ini, untuk mencapai Tabanan, wisatawan harus menempuh perjalanan antara 1,5 jam sampai 2 jam dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar. “Kalau sudah ada bandara di Jembrana, tentu bisa lebih cepat lagi,” ujar Tati.

Selain vila, pembangunan apartemen di Bali juga booming. Meski begitu, apartemen di sini tetap belum bisa memenuhi permintaan pasar. “Soalnya, demand terus bertambah,” ungkap Mira, pemilik apartemen eksklusif bernama Garuda Wisnu Kencana yang berlokasi di Kuta, Bali.

Menurut Mira, tarif sewa hunian eksklusif di Kuta sangat tinggi. Akibatnya, banyak orang menerima hunian dengan fasilitas yang sekadarnya karena memang stok hunian dengan fasilitas memadai sangat terbatas. “Kami juga sering kewalahan, tapi untuk ekspansi susah. Harga tanah sudah tinggi, mencapai 3 juta per m²,” ujar Mira berbagi wawasan.

Dia terjun ke bisnis properti ini sejak lima tahun lalu. Menurutnya, daya tarik investasi properti di Bali sangat tinggi karena popularitas Bali yang mendunia sehingga memberi peluang dan kepastian memperoleh yield atau keuntungan. Ia telah membuktikan sendiri.

Saat ini, tingkat hunian di apartemennya selalu lebih dari 80 persen. Salah satu pemancingnya adalah beragam fasilitas yang dia sediakan, yaitu televisi, AC, air panas, bathtub, dapur, kulkas, spring bed, lemari, meja, dan wastafel.

Wisatawan Asing

Bisnis properti di Bali yang menjanjikan keuntungan tinggi tak urung memancing minat Rahardjo Budialim. Investor lokal ini tertarik membangun vila di kawasan Pantai Jembrana, Bali Barat.

Rahardjo menawarkan tujuh vila di pinggir pantai. Lokasinya hanya berjarak 200 meter dari bibir pantai. Tapi, jangan membayangkan suasana ramai pinggir pantai seperti di Kuta. Sebab, vila ini tidak dibangun di area daerah tujuan wisata. “Tamu yang datang justru mencari ketenangan,” kata Rahardjo.

Biasanya, penyambang vila ini justru wisatawan mancanegara. Suasana desa Jembrana seperti Kuta tempo dulu. Sebagian besar penduduk desanya masih mencari nafkah sebagai nelayan. “Tak banyak vila di sekitar sini, sehingga suasana masih tenang,” ujar Rahardjo.

Rahardjo mengakui bahwa karena lokasinya cukup jauh dari bandara, vila miliknya tidak familier bagi pelancong. Untuk mencapai resor ini, wisatawan harus menempuh perjalanan darat sekitar 2,5 jam dari Bandara Ngurah Rai. “Tapi, di sini kami menawarkan eco tourism, suasana desa, dan hanya 30 menit dari Taman Nasional Bali di Gilimanuk,” kata dia.

Kompleks vila milik Rahardjo ini dibangun di atas tanah seluas 5.000 m². Ada dua jenis vila yang dia tawarkan, yaitu Panggung Kayu bermodel rumah Sulawesi dan vila Batu Alam bernuansa Bali. Vila-vila ini dikelilingi taman yang dipenuhi berbagai macam tumbuhan tropis, seperti bunga-bungaan dan pohon buah-buahan. Pemandangan yang serba hijau ini benar-benar menyegarkan mata yang memandangnya.

Vila Panggung Kayu terdiri dari lima unit vila. Tarif sewanya Rp 1,85 juta per vila per malam. Sedangkan sewa kamar mencapai Rp 1 juta per malam. Luas setiap vila mencapai 70 m², masing-masing terdiri dari dua kamar tidur.

Sedangkan dua buah Vila Batu Alam disewakan dengan harga Rp 750.000 per malam per kamar. “Semua kamar vila menghadap arah matahari terbenam,” kata Rahardjo.

Resor ini dilengkapi dengan kafe 24 jam, kolam renang di pinggir tebing pantai, restoran yang menyajikan berbagai masakan Indonesia, dan area barbekyu untuk tamu yang mau bersantai setelah mendapat tangkapan di laut.

Memang, salah satu andalan vila ini adalah fasilitas berlayar dan memancing. Rahardjo juga menyewakan kapal cepat (speed boat). Memang, biayanya cukup mengorek kocek, sekitar Rp 9 juta per hari.

Tapi, dengan berada dekat pantai, para tamu bisa melakukan banyak kegiatan seperti snorkeling, berkano, voli pantai, dan menjala ikan bersama-sama dengan cara tradisional. Selain itu, vila ini juga menawarkan atraksi lokal seperti pertunjukan tari tradisional Bali, karapan kerbau (makepung), dan tur keliling desa pembuat kerajinan tangan.

Resor milik Rahardjo ini baru berdiri sejak tiga tahun silam. Sebelumnya, Rahardjo pernah berniat menjualnya. Tapi, belakangan ia membatalkan niat tersebut. “Saya batalkan karena persaingan properti di sini belum banyak. Apalagi ke depan daerah ini juga berpotensi menjadi ramai,” katanya.

Para tamu yang berkunjung ke vila milik Rahardjo kebanyakan wisatawan asing. Biasanya puncak keramaian terjadi di bulan Desember sampai Februari, dan Juli. Rahardjo mengaku, tingkat investasi properti di kawasan ini belum terlalu tinggi. “Soalnya belum terlalu ramai,” ujarnya, tanpa menyiratkan nada putus asa. (KONTAN/Havid Vebri/Sanny Cicilia Simbolon)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau