Kesalahan dalam Mengajarkan Anak tentang Uang

Kompas.com - 11/10/2009, 12:52 WIB

KOMPAS.com - Kita semua pasti pernah melakukan kesalahan mengenai keuangan. Itu adalah proses pembelajaran. Supaya si kecil juga mulai belajar tentang uang, dan tidak selalu merengek minta dibelikan sesuatu, ajarkanlah tentang uang. Berikut adalah hal-hal yang sering terlewatkan oleh orangtua kala mengajarkan anaknya tentang uang.

1. Menjadi manusia ATM
Cobalah untuk memberikan uang saku padanya. Beritahu mereka apa yang harus mereka keluarkan dari “dompetnya” untuk bisa mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Entah itu es krim, mainan kecil di toko mainan, atau buku komik. Ini akan mengurangi rengekannya, sekaligus memberikannya kesempatan untuk belajar berhitung. Betapa menakjubkannya melihat berapa banyak yang mereka pelajari dengan menghargai hal-hal yang mereka dapatkan dari kantungnya sendiri. Berhentilah menjadi manusia ATM yang selalu memberikan apa yang ia inginkan setiap kali ia merengek meminta mainan.

2. Mengabaikan pelajaran setiap hati
Jangan lewatkan kesempatan untuk mendiskusikan ekonomi secara sederhana setiap hari. Ketika berbelanja bulanan, ajarkan mengapa membeli barang dalam jumlah besar itu lebih baik dan jadinya lebih murah ketimbang membeli sedikit-sedikit namun sering. Ajarkan juga mengapa barang-barang yang sedang sale dan belum rusak bisa disimpan dan digunakan lain waktu, dan hasilnya lebih hemat. Ajarkan mengapa barang diskonan bisa membantu kita berhemat untuk bisa membeli barang yang kita ingini di akhir tahun.

3. Tidak melibatkan anak-anak di gol jangka panjang
Manajemen keuangan yang baik berlandaskan dua hal; perencanaan dan memilih yang terbaik dari beberapa pilihan. Jika Anda berencana untuk melakukan liburan, libatkan si kecil untuk menentukan anggarannya. Baik itu harga tiket pesawat, konsumsi, dan hiburan. Ambillah satu toples untuk dijadikan “celengan liburan”, dan masukkan uang receh sebisa Anda. Ajak si kecil untuk memasukkan uang koin ke dalam celengan, dan biarkan ia melihat bahwa tabungan bisa bertambah banyak.

4. Tak menjelaskan arti “kartu plastik”
Remaja sekarang banyak yang sudah diberi kartu kredit oleh orangtuanya. Mereka seringkali berbelanja apa pun yang mereka inginkan, kapan pun mereka inginkan. Meski sudah ditekankan bahwa kartu kredit adalah untuk hal-hal yang mendesak, tetapi mereka tetap saja berbelanja sesuka hatinya dengan alasan “penting”. Mereka bisa melakukan hal tersebut karena mencontoh orangtuanya yang selalu menggunakan kartu kredit saat berbelanja apa pun. Tanpa sadar, di masa mendatang ia bisa saja terkena masalah dengan kartu kredit karena tak mampu membayar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau