Tenaga Medis di Lokasi Gempa Masih Kurang

Kompas.com - 12/10/2009, 10:03 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Hampir dua pekan pascagempa bumi di Sumatera Barat kebutuhan tenaga medis dinilai masih kurang. Keberadaan tenaga medis dalam jumlah cukup perlu diupayakan, terutama pada satu bulan pertama pascagempa, yang merupakan periode kritis.

 

Ditambah kecukupan pangan dan tempat tinggal, keberadaan tenaga medis akan menekan jumlah kesakitan dan kematian. ”Satu bulan pertama sangat penting,” kata Koordinator Tim Kesehatan Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ari, yang selama beberapa hari berada di lokasi gempa bersama sejumlah relawan dokter, menyatakan, tenaga medis di lokasi gempa masih sangat terbatas, bahkan jauh dari cukup.

Data terakhir menyatakan, 16 dari 24 puskesmas di Kabupaten Padang Pariaman rusak. Sebagian besar dokter dan perawatnya tak diketahui keberadaannya.

Sementara itu, warga korban butuh penanganan medis secepatnya. Di antara para korban terdapat anak-anak, orang tua, dan ibu hamil, yang merupakan golongan rentan yang perlu pendampingan.

”Pekan ini kami mengirim dokter spesialis penyakit anak, psikiatri, spesialis kebidanan, ahli gizi, dan kesehatan masyarakat,” kata dia. Jumlah dokter yang dikirim kurang dari ideal karena keterbatasan dana.

Idealnya, sebanyak 60 dokter ditugaskan di 24 puskesmas (2-3 dokter di tiap puskesmas) di Padang Pariaman. Di Kota Padang dan Pariaman kebutuhan dokter hanya untuk mengisi sejumlah kekosongan.

Untuk suplai dokter, Ari mengusulkan program dokter pegawai tidak tetap singkat di lokasi gempa, misalnya dalam kurun waktu 3-6 bulan.

Waspadai leptospirosis

Pascagempa perlu kewaspadaan terhadap penyakit leptospirosis, yang bakterinya disebarkan tikus. ”Untuk mencegah, segera bersihkan puing bangunan sumber sarang tikus,” kata dia.

Penyebaran leptospirosis tergolong serius. Penderita merasakan demam, sakit kepala parah, nyeri otot, mata memerah, hingga muntah-muntah yang mematikan. Tsunami Aceh dan gempa Yogyakarta memberi pelajaran pentingnya pembersihan puing bangunan.

Penyakit lain adalah infeksi saluran pernapasan atas, infeksi mata, diare, dan penyakit kulit. ”Depresi warga korban juga perlu penanganan khusus,” kata dia.

Secara khusus, tim kesehatan Universitas Indonesia juga menyiarkan kebutuhan obat yang mungkin dibutuhkan, di antaranya obat-obatan tetes mata, obat sirup batuk dan pilek untuk bayi, obat flu dewasa, obat batuk, salep antijamur dan antiinfeksi, serta obat analgetik.

Terkait dengan pemulihan kondisi psikis dan sosial, salah satu rekomendasinya adalah melibatkan langsung korban dalam proses pemulihan pascagempa. Secara langsung, peran dan tenaga korban diorganisasi untuk penanganan kedaruratan, seperti membangun dapur umum, termasuk menentukan apa yang mereka butuhkan.

Memanjakan korban dengan sejumlah penyerahan bantuan seremonial tidak banyak membantu. ”Jadikan korban sebagai subyek dalam pemulihan, bukan obyek,” kata Direktur Penghimpunan Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU Wildhan Dewayana dalam sebuah diskusi pascagempa. (GSA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau