Pengamat: Jangan Ganggu Penguatan Rupiah

Kompas.com - 12/10/2009, 10:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Bank BNI Ryan Kiryanto mengatakan, penguatan rupiah yang tajam terhadap dollar AS saat ini tidak perlu diganggu karena akan mendorong peningkatan surplus neraca perdagangan.

"Terkait apresiasi rupiah yang tajam terhadap dollar AS sebenarnya jangan terlalu dipersoalkan karena secara neto memberikan manfaat untuk neraca perdagangan di mana importer akan lebih agresif membeli bahan baku impor sementara ekspor bisa digenjot lebih besar lagi sehingga dapat menaikkan surplus neraca perdagangan," katanya seperti dikutip Antara di Jakarta, Minggu (11/10).

Menurut dia, penguatan rupiah yang terus berlanjut saat ini terjadi secara alami, sehingga gangguan penguatan rupiah justru tidak diharapkan oleh para pelaku pasar. "Yang penting apresiasi rupiah terjadi secara alamiah dan bukan ’by design’ (dibuat) kru intervensi otoritas moneter. Kalau memang rupiah berpotensi menuju level Rp 9.000 per dollar AS, berarti memang rupiah diapresiasi dengan baik oleh pelaku pasar karena kinerja perekonomian yang baik," katanya.

Menurut dia, otoritas moneter yaitu Bank Indonesia sebaiknya tetap fokus pada usaha untuk mengurangi gejolak dan fluktuasi nilai tukar rupiah agar tidak terlalu tajam.   "Yang jelas ada saatnya rupiah menguat dan ada saatnya melemah, semuanya karena mekanisme pasar yang bekerja. Yang penting volatilitas dan fluktuasinya jangan terlalu tajam saja," katanya

Rupiah terus mengalami penguatan, setelah sebelumnya berada di level Rp 10.000, sempat berada di kisaran Rp 9.300 per dollar AS. Penguatan nilai tukar juga dialami oleh berbagai negara seiring dengan usaha pemulihan yang dilakukan oleh AS.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan pelemahan dollar AS terhadap mata uang lokal termasuk rupiah perlu diwaspadai. Menurutnya, pelemahan mata uang Negeri Paman Sam tersebut berpotensi mempengaruhi ekspor dan impor Indonesia.

"Karena tren pelemahan dollar, maka perekonomian kita harus lebih waspada dengan fenomena ini," ujar Menkeu, di gedung Depkeu, Jakarta, Jumat pekan lalu.

Pelemahan dollar AS terjadi setelah pertemuan G20 yang mengatakan secara policy seharusnya dollar AS melemah dengan kondisi Amerika yang belum baik. Namun, Menkeu menjelaskan, pelemahan dollar ini bisa berakibat melemahkan ekspor Indonesia.  "Recovery ekspor menjadi tidak terlalu cepat karena ekspor kan menggunakan dollar. Kemudian memang dollar melemah dalam rangka untuk mengkoreksi AS sendiri. Artinya AS tidak akan mengimpor terlalu banyak," terangnya.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau