Penglipuran : Desa Adat yang Masih Mempertahankan Pola Huniannya

Kompas.com - 12/10/2009, 11:31 WIB

KOMPAS.com - Keteraturan angkul atau pintu gerbang dan pola hunian di setiap pekarangan rumah menjadi ciri khas desa adat yang pernah meraih penghargaan Kalpataru ini. Keserasian antara arsitektur bangunan dengan lingkungan membuat desa ini berbeda dengan desa adat lainnya yang ada di Bali.

Penglipuran merupakan satu dari sembilan desa adat yang ada di Bali. Desa ini berada di Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali. Konon, keberadaan warga di sini berawal dari perang pada tahun antara kerajaan Bangli dengan kerajaan Gianyar. Warga yang diminta bertempur oleh raja Bangli lantas diberi hadiah berupa sebidang tanah yang kini lokasi tanah tersebut berdiri Desa Adat Penglipuran.

Secara arsitektur, yang menarik dari desa ini adalah pola huniannya. Setiap bangunan yang ada di masing-masing pekarangan ditata dengan rapi. Meskipun kini sudah menggunakan material yang bukan aslinya, tatanan pola setiap bangunan tetap mencerminkan sebagai sebuah bangunan arsitektur tradisional.

Suasana desa ini terlihat berbeda dengan desa adat lainnya yang berada di Bali. Ketika memasuki pintu gerbang dan memarkirkan kendaraan, suasana berbeda sungguh terasa.

Pintu gerbang khas Bali atau disebut angkul yang merupakan akses menuju rumah penduduk yang berada setiap pekarangan terlihat seragam satu sama lain. Dindingnya terbuat dari pasangan bata dengan atap bambu. Meskipun warna dan ornamennya ada yang berbeda, tetapi keteraturan angkul di setiap rumah memberikan ciri khas yang berbeda dengan desa adat yang lain.

Zonanisasi Hulu Kelod

Menurut I Wayan Supat (42), Kepala Desa Adat Panglipuran, keseragaman angkul ini tak terlepas dari pembagian zona desa. Setidaknya terdapat 3 pembagian zona; zona hulu, zona pawongan atau zona pemukiman, dan zona kelod atau teben.

Ketiga zona ini letaknya membujur dari arah utara ke selatan dengan poros tengah berupa jalan desa yang disebut rurung gede. Jalan desa ini jugs memisahkan bagian zona pawongan menjadi dua, bagian barat yang disebut Kauh dan di sebelah timur yang disebut Kangin.

Jika diibaratkan sebagai tubuh manusia, zona hulu adalah bagian kepala, zona pawongan adalah bagian tubuh, dan zona kelod adalah bagian kaki. Di bagian zona hulu, terdapat bangunan suci atau disebut parahyangan. Di sini terdapat pura yang bernama Pura Penataran, tempat bersembahyang warga desa.

Di zona pawongan yang merupakan zona pernukiman penduduk terdapat 76 pekarangan atau kaveling rumah tempat bermukim warga. Setiap pekarangan yang memiliki luas sekitar 120 are memiliki satu kepala keluarga dan dihuni turun temurun.

Di setiap pekarangan terdapat beberapa bangunan seperti sanggah (tempat bersembahyang di rumah), dapur, bale sangkanan, clan lumbung. Seiring perkembangan jaman, beberapa fungsi bangunan ini berubah. Meski berganti, letak setiap bangunannya tidak bergeser. Bangunan lumbung contohnya. Kini, bangunan lumbung ada yang dibangun dan berfungsi sebagai rumah induk tempat bermukim warga.

Selain pergeseran fungsi, material pembentuknya juga diganti. Sebagai contoh, bangunan dapur yang dulunya menggunakan anyaman bambu kini ada yang diganti dengan batu bata.

Sedangkan zona kelod adalah zona yang terdapat tempat pemakaman. Jika ada warga
yang meninggal, jenazah akan dimakamkan di sans. Warga Desa Penglipuran tidak mengenal ritual pembakamn jenazah sehingga jenazah harus dimakamkan.

Hingga sekarang, tatanan pola hunian seperti ini tetap masih dipertahankan sehingga sangat menarik untuk dikunjungi. Maka tak heran jika desa yang mayoritas penduduknya adalah petani ini mendapatkan penghargaan Kalpataru dan ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah daerah pada tahun 1995. (Al Anindito Pratomo)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau