Tabung Elpiji 3 Kg Bisa Langka

Kompas.com - 12/10/2009, 15:31 WIB

KULON PROGO, KOMPAS.com — Kenaikan harga tabung elpiji ukuran 12 kilogram mulai awal pekan ini berpotensi memicu kelangkaan tabung elpiji ukuran tiga kilogram. Banyak konsumen diperkirakan akan memburu elpiji dalam tabung mini karena harganya jauh lebih murah.

Umar Safaat, agen elpiji di Wates, Kulonprogo, mengatakan, konsumen belum bereaksi terhadap kenaikan harga elpiji karena belum banyak yang tahu. Umar sendiri baru secara resmi menaikkan harga tabung elpiji ukuran 12 kilogram dari Rp 71.000 menjadi Rp 72.500 pada Senin (12/10). Di tingkat pengecer, harganya bisa mencapai Rp 77.000 per tabung.

"Namun, sudah ada beberapa konsumen yang sebelumnya memakai tabung elpiji 12 kilogram, kini membeli tabung elpiji tiga kilogram karena lebih hemat," ujar Umar Safaat.

Sarwidi (40), konsumen, mengatakan, usia pakai tabung elpiji 12 kilogram seharga Rp 77.000 rata-rata satu bulan. Sementara untuk tabung elpiji tiga kilogram, yang harganya Rp 15.000 per tabung, usia pakai sekitar satu minggu.

Hal itu berarti dalam satu bulan Sarwidi hanya perlu mengeluarkan Rp 60.000 untuk membeli empat tabung elpiji mini. Selisih harganya sekitar Rp 17.000.

"Lumayan untuk belanja kebutuhan lain sehari-hari," ujar warga Bendungan, Wates, itu.

Dari sekitar 900 stok tabung elpiji mini yang dimiliki Umar Safaat, sekitar 600 di antaranya sudah kosong. Padahal, pengisian ulang tabung baru dilakukan akhir pekan ini.

Umar memperkirakan jumlah tabung gas mini yang tersisa akan habis dalam 2-3 hari ke depan. Sementara itu, stok tabung elpiji 12 kilogram sebanyak 300 buah miliknya baru laku separuh.

Jika stok tabung gas mini kosong, yang kesulitan adalah masyarakat menengah ke bawah. Pilihan yang tersisa bagi mereka adalah membeli minyak tanah nonsubsidi atau memakai kayu bakar dan arang untuk memasak. Sementara bagi masyarakat mampu, mereka bisa beralih kembali ke tabung gas ukuran 12 kilogram.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral Kulonprogo, Bambang Sutrisno, menyebut kenaikan harga tabung elpiji 12 kilogram sebagai kebijakan yang tidak antisipatif. Pemerintah daerah tidak dilibatkan dalam penentuan kebijakan sehingga masukan atas berbagai dampak yang berpotensi muncul di kalangan masyarakat tidak bisa segera diantisipasi.

"Kalau elpiji tiga kilogram sampai langka, yang kelimpungan pertama kali adalah pemerintah daerah karena warga protes. Ini seharusnya dipikirkan dan Pertamina juga harus memberi jaminan kelancaran distribusi gas kepada pemerintah," kata Bambang.

Selain itu, Pertamina juga harus menjamin ketepatan isi dari tabung elpiji tiga kilogram. Sebab, selama beberapa hari ini Bambang kerap menerima pengaduan konsumen mengenai isi tabung elpiji yang berkurang. Aduan terbanyak datang dari penjual makanan keliling yang biasanya menghabiskan isi tabung selama tiga hari, tetapi kini hanya dua hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau