TKI Demo Damai di KL: "Kami Aman di Malaysia"

Kompas.com - 12/10/2009, 21:56 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com — Sekitar 1.000 tenaga kerja Indonesia (TKI) melakukan demo damai di depan Masjid Kayangan Brinchang, Cameron Highlands, Perak, Minggu, demikian media massa Malaysia, di Kuala Lumpur, Senin (12/10).

Mereka mengecam ancaman segelintir warga Indonesia yang menamakan Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) yang akan menyerang Malaysia pada Oktober 2009 ini.

Dalam demo itu, para TKI yang bekerja di sektor pertanian, konstruksi, dan pembantu rumah di sekitar Cameron Highlands itu membawa pamflet yang di antaranya bertulisan, "Kami Aman di Malaysia", "Terima Kasih Pahang & Malaysia", SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dan NTR (Najib Tun Razak) pemimpin terbaik".  

Para TKI itu menyesalkan sebagian rakyat Indonesia yang kurang menerima penjelasan mengenai isu tari pendet Bali hingga menimbulkan sentimen anti-Malaysia.

Salah seorang tokoh demontran, Ahmad Thoyib Mat Sum (50), mengatakan, unjuk rasa ini merupakan gambaran bahwa warga Indonesia di Cameron Highlands tidak mendukung "kekecohan dan keganasan" yang dilakukan sebagian kecil rakyat Indonesia.

Demo ini membuktikan rakyat Indonesia di Malaysia tidak terprovokasi dengan isu sweeping warga Malaysia dan "Ganyang Malaysia" atau mendukung Bendera (Benteng Demokrasi Rakyat) yang ingin melancarkan peperangan terhadap Malaysia.

"Kami mau ketenangan dan kenyamanan bekerja di Malaysia. Kita Indonesia-Malaysia adalah bangsa serumpun dan sewajarnya perlu hidup lebih aman," kata Ahmad Thoyib, yang sudah 20 tahun bekerja di sektor konstruksi di Cameron Highlands dan sudah menerima status sebagai penduduk tetap atau permanent residence.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau