Ayah Sonny Sempat Minta Doakan Anaknya

Kompas.com - 13/10/2009, 13:25 WIB

BEKASI, KOMPAS.com — Parwoto, ayah Sonny, pemesan kamar teroris di Ciputat, sempat minta doa kepada tetangga untuk Sonny yang sedang menjadi relawan di Padang, Sumatera Barat.

"Doain ya anak saya supaya cepat pulang jadi relawan di Padang. Tidak pulang-pulang," kata Morin kepada Kompas.com, Selasa (13/10), salah seorang tetangga Sonny, mengulang perkataan Marwoto saat pulang shalat maghrib pada Selasa (6/10).

Sonny adalah mahasiswa program studi Fisika semester sebelas, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Ia diduga memesan kamar nomor 15, yang menjadi tempat persembunyian dua teroris Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syarir. Keduanya tewas dalam penggerebekan yang dilakukan Tim Densus 88 beberapa hari lalu.

Sonny sendiri ditangkap di Padang, Sumatera Barat, saat menjadi relawan dari Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi. Menurut Morin, Parwoto bekerja sebagai wiraswasta usaha bubut. Adapun istrinya yang kerap dipanggil Ibu Marin adalah ibu rumah tangga yang membuka usaha warung. "Kesehariannya juga ikut pengajian ibu-ibu," ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa Sonny adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Mereka mendiami rumah tipe 36 dengan luas tanah 100 meter persegi di Perum Mangun Jaya Indah II, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau