Benda-benda Bersejarah itu Berserakan

Kompas.com - 13/10/2009, 21:29 WIB

Oleh Siri Antoni

Museum Adityawarman Sumatra Barat di Jalan Deponegoro No 10 Kota Padang masih terlihat berdiri kokoh seusai gempa yang mengguncang tanah Minang pada 30 September.

Gedung itu tampak tidak terpengeraruh oleh guncangan gempa yang meruntuhkan begitu banyak bangunan lain di Kota Padang.

Tapi, di dalam gedung itu keadaan berbeda. Sejumlah kerusakan terlihat di dalam bangunan berarsitektur Gajah Maharam, rumah adat Minangkabau, itu. Berbagai koleksi yang tersimpan di museum itu berantakan, ratusan lainnya berserakan di lantai.

Benda-benda bersejarah itu semula tersusun rapi di dalam bangunan yang diresmikan penggunaannya sebagai museum pada 1977 tersebut.

Gempa di akhir September itu mengubah semuanya. Sejumlah keramik yang dijaga dengan hati-hati di museum itu hancur.

Kepala Museum Adityawarman Sumbar Usria Dhavida mengatakan, benda-benda bersejarah yang berserakan di lantai itu belum bisa disentuh, apalagi untuk dikemasi kembali.

"Setelah dilakukan pengecekan oleh tim Unesco dan JICA (Japan International Cooperation Agency), organisasi itu menyarankan agar keramik-keramik peninggalan dinasti Ming yang pecah tak disentuh dulu," katanya sambil menunjuk  dokumentasi keramik peninggalan Dinasti Ming yang rusak.

Tak hanya keramik peninggalan Dinasti Ming yang jatuh, katanya, banyak bersejarah lain yang berbahan baku seperti tanah liat juga pecah. Benda-benda itu merupakan temuan dari dalam laut.

Menurut dia, tim Unesco meminta agar pihak museum tidak tergesa-gesa mengemasi benda-benda bersejarah yang berserakan di lantai itu, karena badan PBB itu akan mendatangkan tenaga ahli yang akan menangani benda-benda itu.

"Benda-benda bersejarah itu mempunyai nilai yang amat berharga dan ada cara tersendiri untuk mengemasinya. Hanya ahlinya yang bisa melakukan itu," katanya.

Menurut dia, benda bersejarah dan purkala yang rusak dan pecah masih bisa diselamatkan atau dilestarikan meskipun dalam kondisi tidak utuh.

Kalau orang yang tidak mengerti yang merapikan atau mengemasi benda-benda bersejarah yang pecah itu, kata dia, bisa jadi berbagai pecahan benda itu dibuang begitu saja atau dimasukkan ke dalam karung dan tercampur dengan berbagai reruntuhan benda lain.

Justru itu, kata dia, kini benda-benda bersejarah yang berserakan di lantai itu masih diamankan. "Petugas satuan pengamanan  selalu berjaga di sana," kata Usria Dhavida.

Dia menjelaskan, dalam bangunan bergonjong tujuh yang pada sebelah kiri dan kanannya dilengkapi dengan rangkiang atau lumbung padi, tersimpan benda sejarah dan purbakala yang dibagi dalam sepuluh jenis.

Jenis-jenis koleksi utama itu meliputi arkeologika historika, geografika, biologika, etnografika, numismatika, keramologika, filolo-gika, teknalogika, dan seni rupa.

Kemudian seni pendukung benda purbakala peninggalan Kerajaan Dharmasraya, yakni berupa duplikat patung Bhairawa dan patung Amoghapasa.

Museum itu juga mengoleksi benda yang terbuat dari perak dilapisi emas tua seberat 17,5 gram dan dilengkapi permata berwana putih mengkilat pada bagian tengahnya.

"Keramik peninggalan Dinasti Ming yang jatuh berada di ruangan saya, di sana juga ada berangkas tua yang diserahkan BI. Benda-benda itu ikut rebah. Koleksi lainnya masih banyak juga yang kondisi baik, hanya saja posisinya yang acak-acakan," kata Usria.

Layani pengunjung

Bangunan dengan arsitektur Adat Minangkabau itu merupakan museum budaya yang penting di Sumatra Barat. Juga merupakan andalan bagi daerah itu untuk menarik wisatawan dalam dan luar negeri.

Melihat kondisi yang ada, kata Usria Dhavida, pihaknya belum bisa memastikan lamanya pembenahan museum itu, dan waktu bagi dibukanya kembali layanan kepada pengunjung.

Sampai hampir dua minggu setelah gempa, sejumlah pegawai museum itu belum berani memasuki  bangunan tersebut, apalagi naik ke lantai dua.

Jadi, kata Usria, butuh waktu untuk perbaikan bangunan tempat menyimpan koleksi  bersejarah serta cagar budaya itu.

"Kita belum tahun kapan bisa diperbaiki, setidaknya tiang-tiang yang berpotensi roboh hendaknya disegerakan," kata dia.

Museum Adityawarman yang berada dalam hamparan lahan sekitar 2,5 hektare dikekelilingi pepohonan nan rindang. Terdapat pula pesawat terbang sisa perang dunia ke II di tamannya.

Suasana sejuk di kawasan itu mengundang wisatawan  datang bersama anggota keluarganya, karena di sana juga terdapat permainan untuk anak-anak.

Museum itu biasanya banyak didatangi pelajar dari luar Padang guna mengenali lebih dekat benda-benda sejarah yang ditemukan dalam buku pelajaran sekolah.

Kunjungan ke museum itu cenderung semakin tinggi ketika musim libur sekolah. Apalagi letak museum itu berada tidak jauh dari wisata pantai Padang.

"Kini usia bangunan dengan arsitektur rumah adat Minangkabau itu sudah 33 tahun. Kita berharap bisa segera dibenahi," kata Usria.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau