Oleh Siri Antoni
Museum Adityawarman Sumatra Barat di Jalan Deponegoro No 10 Kota Padang masih terlihat berdiri kokoh seusai gempa yang mengguncang tanah Minang pada 30 September.
Gedung itu tampak tidak terpengeraruh oleh guncangan gempa yang meruntuhkan begitu banyak bangunan lain di Kota Padang.
Tapi, di dalam gedung itu keadaan berbeda. Sejumlah kerusakan terlihat di dalam bangunan berarsitektur Gajah Maharam, rumah adat Minangkabau, itu. Berbagai koleksi yang tersimpan di museum itu berantakan, ratusan lainnya berserakan di lantai.
Benda-benda bersejarah itu semula tersusun rapi di dalam bangunan yang diresmikan penggunaannya sebagai museum pada 1977 tersebut.
Gempa di akhir September itu mengubah semuanya. Sejumlah keramik yang dijaga dengan hati-hati di museum itu hancur.
Kepala Museum Adityawarman Sumbar Usria Dhavida mengatakan, benda-benda bersejarah yang berserakan di lantai itu belum bisa disentuh, apalagi untuk dikemasi kembali.
"Setelah dilakukan pengecekan oleh tim Unesco dan JICA (Japan International Cooperation Agency), organisasi itu menyarankan agar keramik-keramik peninggalan dinasti Ming yang pecah tak disentuh dulu," katanya sambil menunjuk dokumentasi keramik peninggalan Dinasti Ming yang rusak.
Tak hanya keramik peninggalan Dinasti Ming yang jatuh, katanya, banyak bersejarah lain yang berbahan baku seperti tanah liat juga pecah. Benda-benda itu merupakan temuan dari dalam laut.
Menurut dia, tim Unesco meminta agar pihak museum tidak tergesa-gesa mengemasi benda-benda bersejarah yang berserakan di lantai itu, karena badan PBB itu akan mendatangkan tenaga ahli yang akan menangani benda-benda itu.
"Benda-benda bersejarah itu mempunyai nilai yang amat berharga dan ada cara tersendiri untuk mengemasinya. Hanya ahlinya yang bisa melakukan itu," katanya.
Menurut dia, benda bersejarah dan purkala yang rusak dan pecah masih bisa diselamatkan atau dilestarikan meskipun dalam kondisi tidak utuh.
Kalau orang yang tidak mengerti yang merapikan atau mengemasi benda-benda bersejarah yang pecah itu, kata dia, bisa jadi berbagai pecahan benda itu dibuang begitu saja atau dimasukkan ke dalam karung dan tercampur dengan berbagai reruntuhan benda lain.
Justru itu, kata dia, kini benda-benda bersejarah yang berserakan di lantai itu masih diamankan. "Petugas satuan pengamanan selalu berjaga di sana," kata Usria Dhavida.
Dia menjelaskan, dalam bangunan bergonjong tujuh yang pada sebelah kiri dan kanannya dilengkapi dengan rangkiang atau lumbung padi, tersimpan benda sejarah dan purbakala yang dibagi dalam sepuluh jenis.
Jenis-jenis koleksi utama itu meliputi arkeologika historika, geografika, biologika, etnografika, numismatika, keramologika, filolo-gika, teknalogika, dan seni rupa.
Kemudian seni pendukung benda purbakala peninggalan Kerajaan Dharmasraya, yakni berupa duplikat patung Bhairawa dan patung Amoghapasa.
Museum itu juga mengoleksi benda yang terbuat dari perak dilapisi emas tua seberat 17,5 gram dan dilengkapi permata berwana putih mengkilat pada bagian tengahnya.
"Keramik peninggalan Dinasti Ming yang jatuh berada di ruangan saya, di sana juga ada berangkas tua yang diserahkan BI. Benda-benda itu ikut rebah. Koleksi lainnya masih banyak juga yang kondisi baik, hanya saja posisinya yang acak-acakan," kata Usria.
Layani pengunjung
Bangunan dengan arsitektur Adat Minangkabau itu merupakan museum budaya yang penting di Sumatra Barat. Juga merupakan andalan bagi daerah itu untuk menarik wisatawan dalam dan luar negeri.
Melihat kondisi yang ada, kata Usria Dhavida, pihaknya belum bisa memastikan lamanya pembenahan museum itu, dan waktu bagi dibukanya kembali layanan kepada pengunjung.
Sampai hampir dua minggu setelah gempa, sejumlah pegawai museum itu belum berani memasuki bangunan tersebut, apalagi naik ke lantai dua.
Jadi, kata Usria, butuh waktu untuk perbaikan bangunan tempat menyimpan koleksi bersejarah serta cagar budaya itu.
"Kita belum tahun kapan bisa diperbaiki, setidaknya tiang-tiang yang berpotensi roboh hendaknya disegerakan," kata dia.
Museum Adityawarman yang berada dalam hamparan lahan sekitar 2,5 hektare dikekelilingi pepohonan nan rindang. Terdapat pula pesawat terbang sisa perang dunia ke II di tamannya.
Suasana sejuk di kawasan itu mengundang wisatawan datang bersama anggota keluarganya, karena di sana juga terdapat permainan untuk anak-anak.
Museum itu biasanya banyak didatangi pelajar dari luar Padang guna mengenali lebih dekat benda-benda sejarah yang ditemukan dalam buku pelajaran sekolah.
Kunjungan ke museum itu cenderung semakin tinggi ketika musim libur sekolah. Apalagi letak museum itu berada tidak jauh dari wisata pantai Padang.
"Kini usia bangunan dengan arsitektur rumah adat Minangkabau itu sudah 33 tahun. Kita berharap bisa segera dibenahi," kata Usria.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang