Dudukan Toilet Menularkan Herpes?

Kompas.com - 14/10/2009, 04:08 WIB

KOMPAS.com - Tak sedikit orang yang takut menggunakan toilet umum karena khawatir tertular virus herpes dari dudukan toilet. Padahal, penularan herpes sebenarnya tak sesederhana itu.

Perlu diketahui bahwa virus herpes tidak akan bisa hidup lama pada permukaan yang dingin dan kering. Selain itu, penularan baru bisa terjadi jika seseorang memiliki luka terbuka di bagian tubuh yang sama dengan orang lain yang memiliki virus herpes.

Mengapa begitu? Karena kulit kita cukup tebal sehingga virus tidak bisa masuk tanpa adanya luka terbuka. Sehingga yang paling sering terjadi penularan adalah antar manusia karena saat kita berhubungan seks dengan seseorang, mukosa area genital lebih mudah terkelupas dibandingkan dengan kulit luar kita.

Begitu pula dengan kolam renang dan "hot tub" yang kadang juga menimbulkan kekhawatiran bagi sang pemakai karena mereka memiliki jumlah air yang cukup besar untuk bisa menularkan virus herpes. Faktanya, kandungan air yang terdapat di dalam kolam atau tub tersebut cukup besar untuk mendilusikan virus tersebut dan juga terdapat bahan kimia di dalam air tersebut.

Bagaimana dengan "sex toys"? Penggunaan sex toys secara bergantian dengan orang yang memiliki virus herpes memang bisa menjadi media penularan karena virus tersebut bisa hidup sebentar di dalam alat permainan seks.

dr. Intan Airlina Febiliawanti

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau