Rusia: Jangan Tekan Iran

Kompas.com - 14/10/2009, 08:19 WIB

MOSKWA, KOMPAS.com — Menekan Iran dan mengancam menjatuhkan sanksi lanjutan terkait program nuklir negara tersebut akan menjadi langkah yang kontraproduktif.

Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov seusai mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton.

"Pada tahap ini semua upaya harus dilakukan untuk mempertahankan proses negosiasi yang sedang berlangsung," kata Lavrov. "Kami meyakini bahwa ancaman, sanksi, dan tekanan pada situasi sekarang akan menjadi kontraproduktif."

Sikap ini tidak seperti yang diharapkan AS. Namun, Hillary tetap menghargai sikap Rusia, yang ia sebut sangat kooperatif dalam masalah nuklir Iran. Hillary mengatakan, pihaknya meyakini adalah penting untuk menempuh cara-cara diplomatik dan mengupayakan cara itu secara maksimal. "Kami percaya Iran berhak mengembangkan nuklir untuk kepentingan damai, tetapi tidak berhak membuat senjata nuklir."
 
Menurut Amerika, Iran berhak mengembangkan energi nuklir untuk kepentingan damai, tetapi tidak serta merta Iran berhak mengembangkan senjata nuklir. "Rusia sepakat dengan posisi ini. Pada saat yang sama, kami juga menyadari kemungkinan tidak efektinya cara-cara diplomatik. Jadi, kami mengkaji kemungkinan sanksi bila upaya diplomatik gagal," kata Hillary.

Iran menegaskan bahwa program nuklir mereka untuk kepentingan damai, tetapi Amerika dan negara-negara Barat yakin bahwa Iran ingin memiliki senjata nuklir. Iran baru-baru ini mengatakan memiliki reaktor pengayaan uranium kedua, tetapi bersikeras mengatakan itu untuk tujuan damai.

Hillary, yang berada di Moskwa dalam bagian akhir lawatannya di Eropa, mengatakan, pembicaraannya dengan Lavrov menyeluruh dan produktif. Dalam lawatan ke Eropa ini, Hillary juga bertemu Presiden Rusia Dmitry Medvedev di kediaman pribadinya di pinggiran kota Moskwa.

Menurut wartawan BBC, Richard Galpin, di Moskwa, kunjungan Hillary ini terjadi pada saat hubungan antara Amerika Serikat dan Rusia berada di titik yang penting.

Presiden Barack Obama sudah berjanji akan mengubah hubungan dengan Rusia, dan pertemuannya dengan Medvedev pada Juli lalu menunjukkan hal tersebut. Sejak itu, Obama telah memenuhi permintaan Rusia guna menghapus pembangunan fasilitas penangkal rudal di Polandia dan sebuah stasiun radar di Ceko sebagai bagian dari sistem pertahanan rudal Amerika di Eropa.

Meskipun Amerika bersikeras bahwa mereka tidak mengharapkan imbalannya, menurut wartawan BBC, Iran menjadi agenda penting dalam kunjungan Hillary ke Moskwa.

Pejabat Amerika Serikat mengatakan, pemerintahnya menginginkan dukungan Rusia atau paling tidak, tidak menolak usulan Dewan Keamanan PBB untuk menerapkan sanksi lebih keras kepada Iran. Namun, Rusia, yang memiliki hak veto sebagai anggota tetap Dewan Keamanan, berulang kali mengatakan sanksi bukanlah tindakan yang efektif guna menekan Iran.
 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau