Taufik Kiemas Tak Keberatan Kadernya Jadi Menteri

Kompas.com - 14/10/2009, 14:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI Perjuangan Taufik Kiemas mengatakan, dirinya tidak merasa keberatan jika presiden terpilih, Susilo Bambang Yudhoyono, menawarkan posisi menteri kepada kader PDI-P.

"Ditawar belum ada. Namun, kalau dikasih, ya kami ambil. Masa pemberian ditolak-tolak," ujarnya seusai menghadiri syukuran sertifikasi ISO UII di kediaman Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD di Jakarta, Rabu (14/10).

Dia juga tidak mempermasalahkan penempatan para kader PDI-P dalam kabinet pada masa pemerintahan Presiden SBY. Kader PDI-P akan setia ditempatkan di posisi mana pun. "Yang paling penting ditawarkan, bukan menawarkan," ucapnya.

Taufik menuturkan, hingga saat ini partainya belum mempersiapkan siapa saja kader partainya yang akan menjabat sebagai menteri. Pasalnya, hingga saat ini belum ada pinangan secara resmi kepada PDI-P.

Meski demikian, kata dia, semua keputusan berada di tangan Megawati Soekarnoputri selaku ketua umum partai. Jika Mega melarang kadernya untuk bergabung dalam kabinet SBY, semua kader akan menaatinya.

"Kuncinya tetap di Ibu Mega. Biar apa pun juga, sikap ada di Ibu Mega," katanya.

Taufik juga membantah Megawati telah melarang kadernya untuk menjadi menteri. Hingga saat ini belum ada keputusan secara resmi mengenai sikap partai terhadap pemerintahan ke depan.

Taufik mengatakan, pihak yang paling berhak menyatakan sikap partai secara langsung adalah ketua umum partai dan sekretaris jenderal partai.

"Dia (Megawati) belum bersikap. Namun, yang paling berhak menyatakan sikap partai adalah Ibu Mega dan sekjen," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau