Akbar: Minimal Tiga Menteri

Kompas.com - 14/10/2009, 18:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tanjung menyatakan akan mengirim kader terbaiknya jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menawarkan posisi menteri kepada partainya.

"Pemerintahan yang lalu, Golkar juga ada di kabinet. Kalau seandainya nanti Golkar juga diminta duduk di kabinet, saya kira tinggal melanjutkan saja apa yang sudah dilakukan pada pemerintahan yang lalu," kata Akbar Tanjung seusai menghadiri acara "Syukuran atas Penghargaan Penjaminan Mutu Terbaik Universitas 2009" di kediaman Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, Jakarta, Rabu (14/10).

Saat disinggung jumlah kursi yang hendak diduduki kadernya, Akbar menjawab, "Kita tidak menyebutkan ada ditawarin tiga. Karena belum ada pembicaraan formal dengan Presiden. Kita kan harus menghormati hak prerogratif Presiden. Tapi, yang kemarin kan ada tiga jabatan menteri," ujarnya.

Menurut Akbar, hal yang penting jika benar ada kadernya yang masuk kabinet SBY, kader tersebut haruslah yang profesional. "Kalau memang Presiden memilih kader Golkar, tentu yang patut yang mumpuni, tentu kita akan apresiasi dan hormati, dan bahkan kita menitipkan pesan kepada kader Golkar itu agar benar-benar membantu presiden menyukseskan misinya dalam lima tahun ke depan," paparnya.

Politisi senior Partai Golkar ini menegaskan, hingga saat ini Partai Golkar belum melakukan pembicaraan resmi dengan Presiden SBY terkait tawaran kursi menteri tersebut.

Sebagai pendukung Aburizal Bakrie dalam munas pemilihan ketua umum di Riau dua pekan lalu, pernyataan Akbar Tanjung ini semakin jelas bahwa posisi Partai Golkar sebagai kubu koalisi pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono mendatang.

Namun, lanjut Akbar, bisa saja Partai Golkar berada di luar pemerintahan. Jika hal itu terjadi, Golkar tetap akan menjadi partai yang memperjuangkan aspirasi rakyat. "Terlepas ada tidaknya kader dalam pemerintahan atau di luar, yang terpenting fungsi itu dijalankan," jelas Akbar.

Setelah munas di Riau yang lalu, Akbar berharap Jusuf Kalla yang juga sebagai pendukung Surya Paloh saat munas tersebut bisa menghormati apa yang diputuskan Aburizal Bakrie (Ical) selaku Ketua Umum Partai Golkar yang baru, yang akan menentukan ke arah mana partai pohon beringin tersebut memberikan dukungannya.

"Dari awal Pak JK memang kelihatannya memberi dukungan kepada Pak Surya Paloh. Sebab yang menang dan berdaulat menentukan yaitu peserta munas, khususnya DPP Tingkat II. Dan itu faktanya. Dan saya kira kita harus menghormati itu. Sebagaimana saya dulu, ketika Pak JK yang menang dan saya menghormati. Dan saya sekarang Ketua Dewan Pertimbangan, saya kira Pak JK diharapkan juga menghormati," pungkas Akbar. (Persda Network/cr2)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau