Samini Tewas Diseruduk Babi Hutan

Kompas.com - 14/10/2009, 18:29 WIB

MAGELANG, KOMPAS.com - Samini (65), warga Dusun Jombong, Desa Mangunrejo, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, tewas setelah diserang seekor babi hutan yang berkeliaran di pematang sawah di desanya, Selasa (13/10) sore. Luka parah pada tubuh korban terdapat pada bagian punggung dan paha.

Kepala Dusun Jombong Sutoyo mengatakan, dalam keseharian, wilayah Dusun Jombong memang kerap disinggahi babi hutan yang datang dari arah kawasan hutan rakyat di Gunung Potorono, yang hanya berjarak dua kilometer dari dusun.

"Namun, selama ini, hewan tersebut biasanya hanya berkeliaran, memakan, dan merusak hasil pertanian. Serangan terhadap korban manusia, baru sekali ini terjadi," ujarnya, Rabu (14/10).

Dengan kejadian ini, Sutoyo mengatakan, pihaknya akan berupaya memperketat pengamanan desa. Setiap pemuda akan diimbau untuk menyiapkan tombak di rumah, untuk membunuh babi hutan yang diketahui berkeliaran di dusun.

Badan Samini yang tergolek berlumuran darah pertama kali diketahui oleh Sofyan, tetangganya, sekitar pukul 17.00 WIB . Sofyan yang tidak terlampau jelas mengenali tubuh korban, mencari bantuan dan memanggil Salamun (29), anak Samini yang kebetulan lewat. Kepada Salamun, Samini yang masih dalam kondisi sadar, mengaku bahwa dia baru saja diserang seekor babi hutan.

Salamun pun tergopoh-gopoh memanggil orang lain untuk memanggul ibunya untuk diangkut dengan mobil dibawa ke rumah sakit. Namun, dalam perjalanan, Samini akhirnya meninggal dunia.

Indarto, warga Dusun Jombong lainnya, mengatakan, sebelum menyerang Samini, babi hutan tersebut juga telah menyerang warga dusun lainnya bernama Sudin. Babi hutan ini akhirnya hanya mampu dilukai dengan tombak oleh Sudin, dan setelah itu langsung melarikan diri.

Dengan dua kejadian tersebut, Indarto bersama dua warga dusun lainnya mencoba mencari babi hutan tersebut. Hewan itu akhirnya berhasil ditemukan dan dibunuh dengan tombak, hanya berselang sekitar satu jam setelah menyerang Samini.

Selama ini, menurut dia, babi hutan telah sering memakan hasil pertanian warga seperti ubi jalar dan ketela pohon. Banyak babi hutan telah dibunuh, namun tetap saja masih ada jenis hewan tersebut yang berkeliaran di Dusun Jombong.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau