Aparat Pakistan Lemah

Kompas.com - 16/10/2009, 05:22 WIB

LAHORE, KOMPAS.com - Aparat keamanan Pakistan terus menjadi sasaran serangan kelompok bersenjata. Empat serangan terkoordinasi terhadap fasilitas kepolisian di Lahore, Provinsi Punjab, dan di Kohat, barat laut Pakistan, Kamis (15/10), menewaskan lebih dari 35 orang.

Serangan itu menunjukkan lemahnya aparat keamanan Pakistan dalam menghadapi kelompok bersenjata. Serangan itu juga menunjukkan kelompok-kelompok bersenjata terorganisasi dengan baik serta mampu melakukan serangan rumit dan terkoordinasi terhadap fasilitas negara yang dijaga ketat meskipun keamanan ditingkatkan di seluruh negeri.

Di Lahore, sekelompok orang bersenjata menyerang akademi militer di Bedian, pinggiran Lahore. Tujuh orang tewas, termasuk lima penyerang, dalam serangan tersebut. Pengepungan atas akademi militer berlangsung hingga empat jam sebelum aparat menyatakan telah mengambil alih kendali secara penuh. Muncul laporan bahwa penyerang menyandera penghuni akademi militer, tetapi dibantah polisi.

Pada saat yang bersamaan, sekelompok orang bersenjata menyerbu sekolah polisi di Manawa, pinggiran Lahore. Sebanyak sembilan polisi dan empat penyerang tewas dalam serangan tersebut. Sekolah polisi itu pernah diserbu kelompok bersenjata pada Maret lalu dan menewaskan setidaknya delapan polisi.

Kelompok penyerang ketiga menyerbu kantor cabang Badan Investigasi Federal Pakistan (FIA) dan menewaskan tujuh orang, termasuk seorang penyerang. FIA juga pernah dibom pada Maret 2008, menewaskan 16 orang.

Tidak lama sebelum serangan terkoordinasi di Lahore dilakukan, serangan bom mobil mengguncang sebuah kantor polisi di kota Kohat, dekat Peshawar, barat laut Pakistan. Sebanyak 11 orang tewas dalam insiden tersebut. Kantor polisi Kohat rusak parah.

Tidak ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Pemerintah Pakistan menyebutkan, kebanyakan serangan direncanakan di Waziristan Selatan dan dilakukan oleh Taliban, sering kali dengan bantuan kelompok-kelompok bersenjata yang berbasis di Provinsi Punjab.

Perang baru

Pemerintah Pakistan menyatakan, menghadapi perang baru menyusul serangkaian serangan kelompok bersenjata di Punjab, jauh dari daerah panas di wilayah barat laut negara itu.

”Mereka sekarang melakukan perang gerilya. Pertama mereka aktif di Provinsi North West Frontier, kini mereka bermain di Punjab. Mereka adalah teroris yang dibayar untuk mengguncang stabilitas Pakistan,” kata Menteri Dalam Negeri Pakistan Rehman Malik.

Punjab, yang berbatasan dengan India, adalah provinsi terbesar dan termakmur di Pakistan. Baru-baru ini, kelompok Taliban mengklaim tengah mengaktifkan sel di tempat itu untuk menyiapkan sejumlah serangan.

Pejabat Pakistan memperingatkan bahwa kelompok Taliban di perbatasan dengan Afganistan, militan Punjab di seantero negeri, dan sekutu asing Al Qaeda bersama-sama menggalang kekuatan sehingga meningkatkan bahaya bagi Pakistan.

Mereka telah memulai serangkaian serangan pada 5 Oktober di markas Program Pangan Dunia (WFP) di Islamabad hingga pendudukan markas besar militer di Rawalpindi pada pekan ini, menjelang rencana operasi militer besar-besaran terhadap kelompok itu. (ap/afp/reuters/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau