Parasetamol Kurangi Efektivitas Vaksin

Kompas.com - 16/10/2009, 13:21 WIB

KOMPAS.com - Para orangtua sebaiknya tidak perlu panik berlebihan bila anak demam setelah diimunisasi. Demam merupakan hal yang normal dan bukan suatu penyakit. Pemberian obat penurun demam seperti parasetamol justru bisa mengurangi efektivitas vaksin.

Demam setelah imunisasi merupakan hal yang normal dan menjadi tanda tubuh sedang membentuk "pasukan" antibodi yang akan memberikan perlindungan bagi anak dari penyakit. Demikian  menurut Dr.Robert T.Chen, spesialis keamanan darah dari Center for Disease Control and Prevention, Amerika Serikat.

"Kecuali anak menderita demam tinggi dan dokter secara spesifik merekomendasikannya, sebaiknya tak perlu menggunakan obat penurun demam setelah vaksinasi, apalagi jika alasannya untuk mencegah demam," kata Chen.

Para peneliti yang diketuai oleh Dr.Roman Prymula dari Universitas Pertahanan Republik Czech, mencoba mengetahui dampak dari parasetamol terhadap vaksinasi. Jenis vaksin yang terima antara lain Hib, difteri, tetanus, batuk rejan, hepatitis B, polio, dan rotavirus (diare).

Para peneliti melakukan dua studi. Yang pertama adalah saat bayi menerima vaksinasi pertama dan kedua saat mereka menerima vaksinasi lanjutan. Objek penelitian ini adalah 459 bayi dan balita yang secara acak diminta untuk mendapat parasetamol setiap enam hingga delapan jam dalam 24 jam setelah diimunisasi. Yang kedua adalah anak tidak mendapatkan parasetamol.

Para peneliti menemukan bahwa bayi yang diberi parasetamol memang sedikit yang menderita demam, tapi sistem antibodi yang dihasilkan juga rendah. Kemungkinan besar aktivitas zat anti peradangan yang terdapat dalam obat penurun demam memicu timbulnya gangguan pada sistem antibodi sehingga antibodi yang dihasilkan menjadi rendah.

"Kecuali ada alasan khusus untuk mengontrol demam, misalnya ada riwayat kejang disertai demam, sebaiknya obat penurun demam tidak rutin diberikan setelah imunisasi," kata Chen.

Ahli penyakit infeksi, Dr March Siegel dari New York University School of Medicine, AS, mengatakan bahwa obat penurun demam akan mengurangi respon antibodi adalah hal yang masuk akal. Lagipula, respon sistem imun adalah respon peradangan. "Bila anak sakit, atasi sakitnya. Tapi bila anak demam tinggi, sebaiknya segera turunkan demam dengan obat penurun demam," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau