Pendukung Thaksin Kembali Beraksi

Kompas.com - 18/10/2009, 05:23 WIB

BANGKOK, KOMPAS.com - Sekitar 17.000 warga berpakaian warna merah kembali turun ke jalanan di Bangkok, Thailand, Sabtu (17/10). Mereka memaksa pemerintah untuk memintakan pengampunan dari Raja Bhumibol Adulyadej (82) untuk mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra.

Permintaan para pendukung Thaksin itu tampaknya sulit dipenuhi pemerintah, yang justru menginginkan Thaksin untuk tidak pernah kembali lagi ke negaranya. Thaksin kini berada di Dubai, Uni Emirat Arab, tetapi lebih banyak bepergian ketimbang bertahan di satu lokasi.

Thaksin mengasingkan diri setelah diputuskan bersalah melakukan korupsi di sebuah pengadilan di Bangkok, Agustus 2008.

Banyak pihak mengatakan pengadilan atas Thaksin adalah sebuah rekayasa dari pihak militer dan kekuatan politik lama Thailand, yang tidak rela kekuasaannya dilucuti Thaksin. Sejak memerintah pada 2001 dan dijungkalkan tahun 2006, Thaksin membabat kebobrokan rezim lama.

Thaksin ingin pulang ke negaranya dan pernah berjanji untuk tidak terlibat ke dalam politik. Namun, elite Thailand tidak pernah percaya kepada Thaksin, yang berjasa mengangkat perekonomian di pedesaan dan berhasil melunasi utang Thailand kepada Dana Moneter Internasional (IMF).

Sekitar 2.000 polisi dikerahkan untuk menahan laju demonstran. Wakil juru bicara Kepolisian Nasional Thailand, Piya Utayo, mengatakan, sejauh ini keadaan terkendali.

Para demonstran mengatakan, sekitar 3,5 juta tanda tangan warga sudah dikumpulkan. Tanda tangan bertujuan mendapatkan pengampunan Raja bagi Thaksin.

Raja sakit

Para pendukung Thaksin, yang sebenarnya selalu populer di kalangan penduduk, berang dengan sikap pemerintah yang menghambat kepulangan Thaksin. ”Warga berpakaian merah berdemonstrasi untuk mempertanyakan kemajuan petisi kami,” kata Jatuporn Prompan, seorang pemimpin demonstrasi dari kelompok bernama Front Persatuan untuk Demokrasi Penentang Kediktatoran (UDD).

Dia menuduh pemerintah sengaja memperlambat dan tidak mengajukan petisi soal pengampunan Thaksin kepada Raja. Pemerintah mengatakan, setidaknya dibutuhkan waktu dua bulan untuk pengajuan petisi, dengan alasan yang tidak disebutkan.

Raja Bhumibol Adulyadej dirawat selama satu bulan terakhir karena flu dan infeksi jantung. Berita muncul pekan ini bahwa kesehatan Raja memburuk. Berita itu langsung menjatuhkan indeks saham di Bangkok. Raja adalah figur sentral dan pemersatu bagi Thailand.

Thaksin diduga berkalkulasi sepeninggal Raja akan makin membuatnya sulit kembali ke negaranya.

Putri Chulabhorn, anak termuda Raja, membantah kondisi kesehatan Raja yang makin memburuk.

Lagi-lagi kalkulasi Thaksin diduga tak akan mencapai tujuan. Pemerintahan Thailand yang dipimpin PM Abhisit Vejjajiva sangat anti-Thaksin.

Hal ini terlihat pada aksi UDD yang selalu dibalas dengan peredaman keras. Namun, sebaliknya Pemerintah Thailand tak pernah tegas menghadapi Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (PAD), yang sudah tiga kali menjungkalkan pemerintahan, yang dipimpin Thaksin dan para koleganya, yakni Samak Sundaravej dan Somchai Wongsawat. (AP/AFP/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau