PBB Memproses Kesalahan Israel

Kompas.com - 18/10/2009, 05:56 WIB

Mustafa Abd. Rahman

KOMPAS.com - Setelah beberapa pekan menuai protes dan kontroversi, akhirnya sidang khusus Dewan HAM PBB digelar, Kamis dan Jumat (15-16/10) di Geneva, Swiss, untuk membahas laporan Goldstone. Sidang tersebut menyetujui laporan Goldstone dengan 25 suara setuju, 6 suara menolak, dan 11 abstain.

Di antara isi resolusi Dewan HAM PBB itu adalah pasal yang meminta Israel dan Palestina melakukan penyidikan terpisah dan transparan atas semua tuduhan yang termaktub dalam laporan tersebut.

Laporan Goldstone itu akan diajukan ke Mahkamah Kriminal Internasional di Den Haag, Belanda, jika Israel dan Palestina tidak melakukan penyidikan yang kredibel dalam kurun waktu enam bulan.

Presiden Palestina Mahmud Abbas dan Hamas menyambut hasil sidang Dewan HAM PBB itu. Israel menolak dan menyebutnya sebagai tidak adil.

Laporan tim yang dipimpin jaksa internasional asal Afrika Selatan, Richard Goldstone, dengan judul ”Misi PBB untuk Pencari Fakta dalam Perang di Jalur Gaza”, dikeluarkan pertengahan September lalu.

Goldstone dan timnya bekerja secara profesional. Goldstone sendiri berdarah Yahudi dan pendukung Zionis.

Ketika diminta memimpin tim pencari fakta di Jalur Gaza, Goldstone memberi syarat agar tugasnya tidak hanya sebatas menyangkut agresi Israel di Jalur Gaza, tetapi juga serangan roket Hamas ke wilayah Israel. Permintaan Goldstone itu dikabulkan.

Hasilnya, Israel dan Hamas sama-sama dituduh melakukan kejahatan perang dalam perang Jalur Gaza, 27 Desember 2009 hingga 18 Januari 2009. Namun, tuduhan terhadap Israel jauh lebih kuat dibanding tuduhan terhadap Hamas.

Laporan Goldstone itu juga dianggap sebagai terobosan karena berani menegaskan kejahatan perang di Jalur Gaza sesuai hukum internasional.

Pertama kali

Laporan Goldstone mengguncang Israel. Aksi militer Israel untuk pertama kali tidak lolos dari pengusutan hukum dan bisa menggiring Israel ke mahkamah kriminal internasional. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui, laporan Goldstone itu membuat gerak tentara Israel tidak leluasa di masa datang. Netanyahu mengancam, jika laporan Goldstone diajukan ke Dewan Keamanan PBB, Israel akan membekukan proses perdamaian.

Tajuk rencana di harian Israel, Haaretz, mengakui, Israel melakukan kesalahan di Gaza dan menyebabkan citranya terpuruk di mata internasional.

Israel berusaha menyelamatkan diri dengan memprovokasi masyarakat internasional, khususnya Barat, bahwa laporan Goldstone akan membawa Israel menjadi korban, seperti Holocaust yang dialami bangsa Yahudi di era Nazi Jerman.

Amerika Serikat sejak awal keberatan atas laporan Goldstone dan menyebutnya tidak imbang. AS mengisyaratkan akan menggunakan hak veto bila laporan Goldstone diajukan ke DK PBB.

Uni Eropa semula bersikap pasif. Namun, belakangan, akibat provokasi Israel, sejumlah negara Eropa cenderung menginginkan voting atas laporan Goldstone ditunda beberapa bulan. Hal itulah yang tergambar pada sikap Perancis yang mengusulkan agar menunda pembahasan laporan Goldstone dalam sidang Dewan HAM PBB hari Jumat, 16 Oktober lalu. Upaya Perancis dipatahkan Mesir.

Sikap AS dan Barat mendapat kritikan keras dari LSM-LSM internasional. Lembaga Human Rights Watch internasional menuduh AS dan Uni Eropa mematahkan upaya mencari keadilan di Jalur Gaza.

Laporan itu juga membuat Abbas terjepit.

Keputusan Abbas di bawah tekanan AS dan Israel, meminta Dewan HAM PBB menunda sidang untuk membahas laporan Goldstone itu, membuatnya menjadi bulan-bulanan. Sedianya sidang Dewan HAM PBB tentang laporan Goldstone itu digelar 2 Oktober lalu. Namun, atas permintaan Abbas, sidang ditunda hingga Maret 2010.

Hamas tampak sangat cerdik dan cepat memanfaatkan situasi, dengan memolitisasi keputusan Abbas tersebut.

Manuver Hamas

Hamas bermanuver untuk memojokkan Abbas dan mencoreng citranya. Sasaran utama Hamas adalah pemilu mendatang, jika jadi dilaksanakan pada Juni 2010 pascatercapainya rekonsiliasi Palestina.

Hamas, melalui kasus laporan Goldstone, ingin agar popularitas Abbas dan tokoh-tokoh Fatah terpuruk sehingga sulit bersaing dengan para kandidat Hamas pada pemilu legislatif dan presiden Palestina mendatang.

Bagian dari manuver itu, Hamas meminta penundaan agenda rekonsiliasi Palestina yang dijadwalkan akan dideklarasikan di Kairo, Mesir, pada 26 Oktober nanti. Pihak Hamas berdalih, rekonsiliasi belum kondusif lantaran penundaan sidang laporan Goldstone itu.

Mesir sebagai mediator dan sekaligus fasilitator rekonsiliasi Palestina tidak memiliki pilihan lain kecuali memenuhi permintaan Hamas tersebut.

Hamas juga berhasil menggiring opini Palestina dan bahkan dunia Arab untuk cenderung menyalahkan Abbas dalam penundaan sidang Dewan HAM PBB itu.

Abbas dan koleganya di faksi Fatah dan PLO tampak segera membaca ke mana arah manuver Hamas tersebut.

Bagi Abbas, yang sudah terjepit, tidak ada pilihan lain kecuali mengakui kesalahan dan berusaha menggalang dukungan dari negara-negara anggota Dewan HAM PBB untuk segera menggelar sidang, membahas laporan Goldstone itu.

Itulah yang membuat anggota Komite Sentral faksi Fatah, Nabil Shaath, muncul dalam wawancara dengan televisi satelit, Aljazeera, Rabu malam, 14 Oktober, dan mengakui, Otoritas Palestina melakukan kekeliruan ketika meminta menunda sidang Dewan HAM PBB atas laporan Goldstone.

Otoritas Palestina memperbaiki kekeliruan dengan meminta segera digelar sidang Dewan HAM PBB dan DK PBB untuk membahas laporan Goldstone.

Shaath juga mengungkapkan bahwa Otoritas Palestina berhasil mendapat dukungan 18 dari 47 negara anggota Dewan HAM PBB, untuk segera menggelar sidang.

Syarat untuk bisa menggelar sidang Dewan HAM PBB minimal mendapat dukungan 16 negara dari 47 negara anggota Dewan HAM PBB.

Hasil upaya Abbas tersebut akhirnya terwujud dengan digelarnya voting dalam forum sidang Dewan HAM PBB atas laporan Goldstone.

Terlepas bagaimana jalannya proses pelaksanaan dari keputusan sidang Dewan HAM PBB itu di masa mendatang, kini menjadi uji coba bagi niat faksi-faksi politik Palestina, khususnya Hamas dan Fatah, untuk bisa bersatu. Kedua faksi itu ditantang untuk bersedia kembali lagi pada agenda rekonsiliasi yang menjadi tumpuan harapan segenap rakyat Palestina.

Hanya dengan senjata rekonsiliasi, Palestina bisa memiliki daya tawar-menawar yang lebih kuat dalam menghadapi Israel.

Meski demikian, tantangan juga muncul bagi Barat dan AS. Jika laporan Goldstone mental, dengan kata lain kejahatan Israel tidak diusut, akan sulit pula meredam kesemena-menaan Israel di Jalur Gaza.

Menuntut rekonsiliasi Hamas-Fatah dan memaksa Israel meredam kejahatannya adalah dua sisi dari satu koin alias tak terpisahkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau