TEHERAN, KOMPAS.com-Pemimpin oposisi Iran, Mir Hossein Mousavi, Minggu (18/10) di Teheran, menegaskan akan terus mendorong upaya reformasi meski pemerintah menindak keras aksi-aksi protes setelah pemilihan umum presiden 12 Juni. Hal itu disampaikan Mousavi dalam situs internetnya.
Mousavi dan beberapa kandidat presiden lainnya mengatakan, pemilu 12 Juni dirancang untuk mengamankan terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Tuduhan itu dibantah oleh otoritas-otoritas Iran.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan, ribuan orang ditangkap setelah pemungutan suara. Lebih dari 100 orang, termasuk beberapa mantan pejabat senior, masih ditahan di penjara. ”Rakyat kami bukan pembuat onar. Reformasi akan berlanjut selama tuntutan-tuntutan rakyat tidak dipenuhi,” kata Mousavi.
Situs itu menambahkan, menahan orang-orang di penjara tidaklah bermakna apa-apa. ”Mereka harus dibebaskan secepatnya,” tegas Mousavi pada sebuah pertemuan dengan keluarga mantan Wakil Menteri Luar Negeri Mohsen Aminzadeh yang masih dipenjarakan.
Harus berubah
Kelompok reformis berkeyakinan, Republik Islam Iran harus berubah agar bisa bertahan dan memenuhi tuntutan-tuntutan populasi warga mudanya yang dominan.
Anggota parlemen terkemuka konservatif, Ali Motahari, menyalahkan baik Ahmadinejad maupun Mousavi karena telah menimbulkan perpecahan di dalam negeri.
”Teman-temanku pergi melihat bahwa Ahmadinejad juga berperan dalam perselisihan baru-baru ini,” kata Motahari seperti dilaporkan surat kabar Sarmayeh.
Untuk melindungi dan memperbaiki kembali persatuan nasional, menurut Motahari, baik Mousavi maupun Ahmadinejad harus mengakui kesalahan masing-masing dan meminta maaf kepada rakyat secara terbuka. ”Jika tidak, perselisihan ini akan tetap ada,” paparnya.
Dalam sebuah laporan terpisah di surat kabar Vatan-e-Emrouz, kerabat dan sekutu mantan Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani menyatakan, Mousavi terus mendapatkan dukungan dari ulama berpengaruh, termasuk Rafsanjani, salah satu pesaing Ahmadinejad.
Rafsanjani pada Juli lalu menentang otoritas pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dengan mendeklarasikan bahwa Iran berada dalam keadaan krisis. Dia juga mendesak diakhirinya penangkapan para pengikut moderat, menyusul pemilu 12 Juni.
Akan tetapi, Rafsanjani belum lama ini tampak melemah, dengan menganjurkan kepada rakyat Iran untuk mengikuti petunjuk-petunjuk Khamenei dan menyerukan persatuan nasional.
”Selama Mir Hossein Mousavi memperjuangkan tujuan-tujuan penting yang sama, dia akan terus mendapatkan dukungan dari Hashemi,” ungkap Hossein Marashi, sekutu dekat Rafsanjani.
Mantan Presiden reformis, Mohammad Khatami, Jumat (16/10), bersama-sama Mousavi mengecam keras ”iklim keamanan” dan berlanjutnya penangkapan. Situasi semacam ini dinilai akan merusak Revolusi Islam, negara, dan rakyat Iran.
Keduanya menekankan perlunya kembali ke konstitusi dan mengembalikan iklim keamanan sehingga media massa-media massa bisa melakukan pekerjaannya. (AFP/Reuters/OKI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang