PT INKA Produksi Kereta Dinas Presiden

Kompas.com - 19/10/2009, 13:22 WIB

MADIUN, KOMPAS.com - PT Industri Kereta Api (INKA) di Madiun, Jawa Timur, mempoduksi dua gerbong kereta api kedinasan untuk angkutan Presiden Republik Indonesia dan pejabat negara yang merupakan pesanan dari Departemen Perhubungan Republik Indonesia.

Humas PT INKA Madiun, Fathor Rasid, Senin, mengatakan, pengerjaan kereta api kedinasan untuk presiden tersebut dimulai pada awal tahun 2009 dan saat ini telah mencapai 60 persen. Diperkirakan, pada 100 hari pemerintahan presiden baru yang terpilih ke depan, kereta sudah dapat dioperasikan untuk urusan tugas presiden.

"Target kami kereta akan selesai pada akhir tahun 2009. Pengerjaannya memang tidak dikebut, karena PT INKA lebih mengutamakan pengerjaan pembuatan kereta api untuk angkutan masyarakat. Saat ini selain kerta kedinasan presiden, PT INKA juga mengerjakan kereta angkutan untuk wilayah Pulau Sumatra," ujarnya kepada wartawan.

Ia mengungkapkan, karena untuk angkutan presiden dan pejabat negara, maka desain kereta dinas tersebut berbeda dengan kereta angkutan pada umumnya. Meski demikian,  kereta ini tetap menggunakan kereta pembangkit seperti kereta angkutan pada umumnya. "Secara umum hampir sama. Kereta dinas nantinya juga akan ditarik oleh kereta pembangkit seperti kereta angkutan pada umunya. Hal yang membedakan adalah desain interior dan tingkat keamanannya. Kereta dinas kepresidenan ini akan dilengkapi dengan kaca anti peluru," katanya.

Spesifikasi interior yang digunakan merupakan tipe etnik Andalas Borneo, dimana semua bahan yang dipakai merupakan bahan kelas satu. Seperti lantai akan dibuat dari "vinyl heavy duty", dinding akan dibuat dari kombinasi kayu jati dan polymer dengan aksen "stainless frame", dan plafon terbuat dari kombinasi polymer dan lembaran kayu jati kelas satu.

Selain itu, lanjut Rasid, di dalam kereta juga disediakan, ruang pertemuan, ruang inspeksi, ruang makan, ruang istirahat, dan fasilitas lainnya untuk menunjang tugas-tugas kepresidenan. Kereta dinas presiden ini baru pertama kalinya dibuat oleh PT INKA. "Wacana pemesanan kereta sudah sejak tahun 2007. Setelah itu, tahun 2008 surat resmi dari pemerintah melalui departemen perhubungan masuk ke INKA. Sedangkan tahun 2009 dana cair dan mulai dikerjakan," kata Rasid seraya mengelak pertanyaan wartawan tentang besarnya anggaran yang ditetapkan.

Menurut dia, pembuatan dan desain kereta ini dilakukan oleh tangan-tangan arsitek anak bangsa. Dan tahap pembuatan selanjutnya adalah tahap pengecatan, pemasangan interor, dan tes keselamatan lainnya. Seperti tes keseimbangan, tes jalan, dan lainnya. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau