KOMPAS.com - Mendengar suara adzan zuhur, Suparmi (35) pamit meninggalkan ruang tamu menuju dapur. Tidak lama kemudian, ia kembali menemui tamu-tamunya sembari berkata, "Monggo , makan siang sudah siap di belakang. Monggo, dahar sesarengan," dengan santun.
Awalnya, tamu-tamu dari kantor desa dan kecamatan itu menolak ajakan Suparmi dengan halus. Tapi, mereka akhirnya luluh setelah wanita warga Dusun Gunungrego, Hargorejo, Kokap, itu memaksa.
Tamu-tamu Suparmi kemudian beranjak dari kursi dan berjalan menuju dapur. Di atas meja amben dari bambu, tersaji menu makan siang berupa sayur bobor bayam, nasi, tempe goreng, dan kerupuk tapioka. "Maaf seadanya," ujar Suparmi.
Sambil bersantap, Camat Kokap Santosa mengatakan hidangan itu tergolong mewah karena menghadirkan tempe kedelai. Pada umumnya warga hanya makan dengan menu nasi sayur dan sambal. Kerupuk pun hanya kadang-kadang tersaji.
"Kalaupun ada tempe, biasanya bukan dari kedelai, tetapi dari kacang benguk yang murah," kata Santosa.
Saat dikonfirmasi, Suparmi membenarkan perkataan Santoso. Ia yang bekerja sebagai pembuat gula Jawa itu mengaku tidak sanggup kalau harus menggoreng tempe setiap hari.
Jika dirinci, pendapatan Suparmi yang rata-rata Rp 15.000 per hari hanya cukup dibelikan beras satu kilogram, sayuran seikat, gula pasir seperempat kilogram, dan sedikit bumbu dapur. Sedikit sisa uang diberikan kepada dua anaknya untuk jajan di sekolah.
Suparmi memiliki lima ekor ayam kampung, namun ia nyaris tak pernah memakan telur unggas itu. Kalau ada ayam yang bertelur, Suparmi mengambil sebagian dan menjualnya ke warung tetangga di sekitar rumah dengan harga Rp 1.000 per butir.
"Uangnya saya tabung untuk bayar listrik dan beli gas elpiji kalau habis," ungkap Suparmi.
Sejumlah warga Kokap yang tinggal di Dusun Clapar III, Desa Hargo wilis, juga mengagungkan tempe, telur, terlebih daging. Tokoh warga Clapar Suparyono, Sabtu (17/10) lalu, menceritakan masih banyak warganya yang makan asal kenyang.
Agar tidak mudah merasa lapar, warga biasa makan camilan sesering mungkin, seperti singkong rebus, ubi goreng, dan buah pisang. Semua makanan itu hanya menyediakan karbohidrat sebagai sumber tenaga, tetapi minim protein.
Bagi warga, nasi, singkong, dan ubi adalah yang terpokok. Sayur, lauk, dan buah-buahan hanya pelengkap yang jika tersedia akan dimakan, namun jika tidak ada, tidak mengapa.
"Warga hanya mengonsumsi daging atau telur pada saat tertentu saja, seperti pada perayaan Idul Fitri dan selamatan," katanya.
Sejak setahun terakhir, beberapa warga sudah memiliki ternak berupa kambing dan sapi, bantuan dari pemerintah. Hanya saja, sama seperti Suparmi, hasil ternak itu tidak pernah dikonsumsi sendiri. Ternak yang sudah dewasa dijual ke pasar menjelang tahun ajaran pendidikan baru, sehingga orangtua bisa membelikan anak-anaknya seragam, sepatu, dan buku pelajaran baru.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kulon Progo menunjukkan tingkat konsumsi protein hewani warga memang masih cukup rendah.
Pada tahun 2007, rata-rata daging yang dikonsumsi warga hanya 2,792 gram per kapita per hari, sementara telur hanya 1,237 gram per kapita per hari. Jumlah itu nyaris setara dengan setengah butir bakso kecil dan secuil telur dadar.
Jumlah konsumsi ikan di Kulon Progo juga masih rendah, yakni kurang dari 12,95 kilogram per kapita per tahun. Angka ini jauh di bawah rata-rata Provinsi DIY yang mencapai 19 kilogram per kapita per tahun, dan tidak sampai separuh dari jumlah rata-rata konsumsi ikan nasional sekitar 28 kilogram per kapita per tahun.
Bahkan di perbukitan yang terpencil, seperti di Kecamatan Samigaluh dan Girimulyo, tingkat konsumsi protein hewani masih di bawah rata-rata kabupaten. Kondisi medan yang berbukit terjal dan minim sarana transportasi membuat warga seolah terisolasi.
Mereka kesulitan mengakses pasar dan hanya mampu mengonsumsi makanan seadanya. Apa yang disediakan alam, itu yang dimakan.
Di sisi lain, warga enggan mengonsumsi sumber-sumber protein alternatif, seperti belalang dan ulat, seperti yang dilakukan oleh warga Gunung Kidul. Banyak warga yang jijik. "Serangga kok dimakan," ujar Suparyono.
Akibatnya, sejumlah anak berusia bawah lima tahun (balita) di Kulon Progo menderita gizi buruk cukup banyak. Tahun 2007-2008, menurut data BPS, jumlahnya mencapai 241 orang, sekitar 0,85 persen dari total balita yang mencapai 2 8.255 orang.
Namun menurut Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Lestaryono, angka itu sudah berkurang. Ia mengeklaim jum lah balita penderita gizi buruk pada tengah tahun 2009 ini hanya sekitar 0,5 persen.
Kepala Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan Kulon Progo Bambang Tri Budi mengakui bahwa kurangnya asupan protein dan lemak masih jadi masalah ketahanan pangan di Kulon Progo. Sementara untuk karbohidrat dan vitamin tidak terlalu mengkhawatirkan.
Warga Kulon Progo terbiasa memakan sumber karbohidrat yang beragam, namun mereka tidak banyak makan lauk. "Inilah yang akan kami perbaiki," ujar Bambang.
Berbagai program pemberian makanan tambahan dan hewan ternak untuk memenuhi kecukupan protein warga sudah diupayakan oleh pemerintah, namun banyak menemui kendala. Makanan tambahan tidak diberikan secara rutin karena keterbatasan anggaran daerah.
Sementara, seperti disebutkan sebelumnya, ternak pemberian pemerintah juga banyak yang dijual sebelum mereka beranak. Hal itu semata-mata demi memenuhi kebutuhan rumah tangga lain.
Pengambil kebijakan menyadari, dibutuhkan perubahan perilaku hidup sehat ma syarakat. Mereka juga perlu disadarkan mengenai pentingnya pemenuhan gizi demi kesehatan, khususnya anak-anak.
"Materi tentang gizi dan perilaku hidup sehat sudah sering kami sampaikan melalui kader-kader posyandu melalui pertemuan-pertemuan warga. Tetapi, sungguh tidak mudah mengubah apa yang sudah menjadi kebiasaan warga," kata Lestaryono.
Warga juga tidak merasa perlu mengonsumsi zat protein demi kecerdasan, misalnya, karena mereka banyak bekerja di sektor nonformal yang lebih mengandalkan tenaga. Sekolah tinggi demi meraih gelar pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik merupakan impian muluk, sehingga tidak perlu diupayakan.
Seperti kata Suparmi, banyak anak petani yang akhirnya juga jadi petani. Kalaupun merantau di kota lain, generasi muda ini akhirnya juga menekuni pekerjaan kasar seperti buruh bangunan atau pabrik. Tidak ada perubahan dalam keluarga mereka, kecuali tempat bekerja saja.
"Mungkin sudah takdir kami seperti ini," kata Suparmi sambil tersenyum. Miris kedengarannya.
Diperlukan metode perubahan baru untuk menyelamatkan warga Kulon Progo dari ancaman kekurangan gizi. Masyarakat boleh saja terlihat berpangku tangan dan pasrah, namun sesungguhnya mereka masih terus berharap...
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang