Pemuda HIV Itu Dikerubungi Lalat

Kompas.com - 19/10/2009, 19:15 WIB

GARUT, KOMPAS.com- Seorang pemuda berinisial "HA" (28), yang diduga penderita penyakit HIV/AIDS selama ini diasingkan oleh pihak keluarga dan warga sekitarnya di kaki Gunung Guntur, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Korban hanya menempati sebuah gubuk bekas pos penjagaan penggali pasir, dengan kondisi tubuh sangat lemah. Bahkan dari sekujur badannya tercium bau tak sedap serta banyak dikerubuti lalat, meski pihak keluarganya masih sering menjenguk serta melakukan perawatan. 

Ketika ditemui, Senin (19/10), HA mengaku terpaksa mengasingkan diri, karena sebagian besar keluarga serta tetangga terdekatnya sangat keberatan dirinya berada di rumah.

Kondisi tubuh warga Kampung Dukuh, Desa Pananjung, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut itu makin lama makin kurus kering. Sebagian besar kulitnya melepuh digerogoti penyakit, sehingga dia hanya mampu terbaring lemah serta kerap meringis menahan rasa sakit.

Sejak divonis positif mengindap HIV/AIDS oleh dokter yang pernah menanganinya, korban juga mengaku hanya bisa pasrah hingga diasingkannya oleh pihak keluarga dan warga sekitarnya.

Satu-satunya kerabat yang masih bisa menerima HA adalah Nandang. Paman HA itu sampai saat ini masih sering mengunjungi dan menjaganya.

Ketika dihubungi terpisah, pihak keluarga yang tak mau disebut namanya menyatakan, latar belakang kehidupan HA sebelum sakit sangat tidak bagus. "Selain memiliki sikap kewanita-wanitaan, ia juga banyak bergaul di dunia malam di lokasi wisata Puncak Bogor," katanya.

Kehidupan malam pula yang mengantarkan HA ke Batam, sampai akhirnya diantar oleh orang tak dikenal ke kampung halamannya di Garut, dalam kondisi sakit berat. Maka warga sekitar, termasuk pihak keluarga, spontan menolak kehadirannya, dan mengasingkan pemuda itu ke lembah kaki gunung api Guntur karena, takut tertular penyakit yang dideritanya tersebut.

Kepala RSU dr Slamet Garut dr Hj. Widajayanti Utoyo, SPM mengatakan, pihaknya sangat terbuka menerima rujukan korban untuk dilakukan perawatan secara intensif, sepanjang pasien membawa surat pengantar dari Puskesmas setempat atau dari aparat pemerintahan desa maupun kelurahan.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dr Hendy Budiman belum bisa dikonfirmasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau