Laporan langsung Sabastian dari Pabrik Toyota di Nagoya
NAGOYA, KOMPAS.com — Ada yang menarik ketika meninjau pabrik Toyota di Tsutsumi, Nagoya, dan melihat proses perakitan, Senin (19/10). Ternyata, saat melahirkan Toyota Prius berteknologi hybrid pertama kali pada 1997, Toyota Motor Corp atau TMC tak memikirkan segi komersialnya saja.
Pabrik mobil terbesar di Jepang ini punya komitmen mulia bahwa kendaraan ramah lingkungan diluncurkan dari pabrik yang hemat energi dengan pekerja yang juga peduli lingkungan. Semangat ini terpancang dalam slogan Toyota yang berbunyi "Eco Cars are the Product of Eco plants and Eco-people".
Makanya, kondisi pabrik saat pertama kali berdiri pada 1970 terlihat sangat beda jika dibandingkan dengan kondisi sekarang. Nuansa hijau menyelimuti sekitar pabrik Tsutsumi yang luasnya 114 hektar itu. Sampai-sampai, halaman parkir pun dirancang begitu erat dengan kerimbunan. Bahkan, pada salah satu sudut halaman di pabrik Tsutsumi, mereka memajang Prius berkelir hijau yang di depannya terdapat kolam kecil dengan beberapa ikan koi. Airnya merupakan limbah pabrik yang sudah disuling dan kejernihannya berada di atas air biasa.
Trus, bagian atap pabrik sudah dipasangi lempengan tenaga surya. Di sini, jelas kalau Toyota coba melakukan penghematan dari segi energi. Jadi, penerangan mengandalkan sumber matahari.
Bahkan, ketika memasuki ruang pertama perakitan Prius, Kompas.com sempat silau oleh sorotan cahaya yang bagaikan puluhan lampu neon. Humas TMC menjelaskan bahwa sinar yang terang itu bukan lampu melainkan sinar matahari. Tak cuma itu, lampu penerangan di pinggir jalan di seputar pabrik sudah mengandalkan lempengan tenaga surya.
Di luar itu, Toyota mampu membuat komunitas sekitar pabrik atau karyawan betah berada di lingkungan kerjanya seperti berada di rumah sendiri. Bisa sampai begitu karena sudah menjadi target TMC bahwa pabrik sebagai tempat karyawan bekerja dicintai lingkungannya.
Makanya, pekerja diberi jam istirahat yang cukup. Menurut Takeshi Nomura selaku General Manager Engineering Administration Div Tsutsumi Plant, pada shift pertama, para karyawan mendapat waktu istirahat 10 menit pada pagi hari, makan siang 45 menit, dan siangnya 20 menit.
Dengan semua konsep itu, TMC menginginkan Tsutsumi menjadi model pabrik terbaik atau nomor satu di dunia. Tampaknya hal itu tidak sulit karena tiga pilar yang dicanangkan sudah mereka raih.
Hal itu seperti kegiatan rutin melakukan aktivitas perbaikan (kaizen) di lingkungan pabrik, menciptakan hutan di areal pabrik, mendayagunakan sinar matahari sebagai sumber energi baru, dan terakhir, mengajak lingkungan seputar pabrik untuk sadar lingkungan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang