KOMPAS.com — Jenson Button tidak henti-hentinya bernyanyi, "Kami juara dunia. Ya, sayalah juara dunia, kawan...," usai mobil yang dikendarainya menyentuh garis finis di Sirkuit Interlagos, Brasil, Minggu (18/10). Ya, hari itu Button resmi meraih hal yang bahkan tidak pernah diimpikannya, menjadi juara dunia Formula 1 (F1).
Lagu "We Are The Champions" yang dipopulerkan grup musik rock Queen menjadi begitu bermakna bagi pebalap berusia 29 tahun ini. Nyanyian itu adalah ungkapan spontan kegembiraan serta klimaks perjuangannya, baik di balapan itu maupun selama sembilan tahun kariernya di F1.
"Balapan kali ini adalah balapan terbaik yang pernah saya alami dalam hidup saya. Ketika saya pertama kali turun ke balap mobil 21 tahun lalu, saya tidak pernah menyangka akan menjadi juara dunia (F1)," ungkap Button yang tampil gemilang finis di urutan ke-5, meskipun start dari urutan ke-14 di GP Brasil.
Begitu dramatisnya, sampai-sampai gelar juara dunia yang diraihnya itu disebutnya sebagai sebuah dongeng yang menjadi kenyataan. "Setelah apa yang saya alami tahun lalu, ini adalah akhir dari dongeng yang indah," ucap Button seperti dikutip dari Autosport.
Ibarat naik roller coaster, saat ini Button tengah ada di atas puncak trek. Ia pernah, bahkan sering kali, berada di bawah. Setahun lalu, jangankan bermimpi menjadi juara dunia, untuk tetap bisa membalap di F1 saja baginya masih menjadi sebuah tanda tanya besar.
Nasib pebalap asal Inggris ini sempat terkatung-katung menyusul mundurnya pabrikan Honda dari kancah F1 pada Desember 2008 akibat badai krisis finansial dunia. Nasib baik kemudian menghampiri Button setelah Ross Brawn, mantan bos tim Honda dan Ferrari, pada 5 Maret 2009 memutuskan membeli Tim F1 Honda dan kemudian menggantinya menjadi Brawn GP.
Untuk bisa membalap di Brawn GP, ketika menandatangani kontraknya, Button bahkan sampai merelakan pemotongan gaji 3 juta poundsterling per tahun.
Mencetak sejarah
Pada tiga tahun performa Button di Honda (2006-2008) terbilang buruk. Ia hanya meraih satu kemenangan, bahkan pernah menempati posisi 18 dunia di 2008. Namun, ia langsung meroket di tahun pertamanya bersama Brawn GP. Pada balapan perdana Brawn GP di Australia, Button sukses keluar sebagai juara pertama.
Yang lebih menggembirakan tidak hanya itu. Rekan satu timnya, Rubens Barrichello, finis di belakangnya. Sukses ini mengantarkan Brawn GP mengukir sejarah sebagai tim F1 baru yang mampu menang di balapan perdananya. Capaian ini hanya bisa disamai legenda F1 Juan Manuel Fangio dan tim Mercedes Benz W196 di 1954.
Seusai kemenangan di Australia, dengan kerendahan hati, Button mengatakan bahwa prestasinya itu jauh dari ekspektasinya. "Seperti dongeng saja," tuturnya ketika itu. Padahal, jika dilihat secara teknis berdasarkan latihan pra-musim, mobil Brawn GP memang telah jauh mengungguli tim-tim lain, sekalipun itu tim unggulan macam Ferrari dan McLaren.
Terbukti, dominasi Button dan Brawn GP terus berlanjut pada awal-awal musim. Button berhasil menyapu bersih gelar di enam dari tujuh balapan awal musim 2009. Capaian Button ini hanya bisa disamai Jim Clark, Nigel Mansell, dan Michael Schumacher.
Bahkan ketika itu, entah nada pujian ataupun semacam pesimistis, pebalap Ferrari yang kini tengah cedera, Felipe Massa, pernah melontarkan pernyataan bahwa Button dan Brawn GP bisa saja memastikan kemenangan pada kejuaraan F1 di tengah musim.
Perjalanan karier Button sebagai pebalap sukses penuh lika-liku dan rintangan. Bakat membalap Button telah muncul sejak ia kecil. Pada usia 8 tahun, ia sudah membalap di kejuaraan mobil karting. Pada 1991, ia menorehkan hasil luar biasa memenangi seluruh 34 balapan di Kejuaraan Nasional Gokar Kelompok Kadet.
Perjalanan karier
Karier balapnya mendapat dukungan dari ayahnya, John Button, yang juga pebalap rallycross. Dalam lomba di Brasil kemarin, John turut hadir memberi semangat dari pit. John terlihat berurai air mata ketika memeluk Jenson seusai balapan. Mungkin, ia menyadari betapa beratnya perjuangan anaknya saat menekuni karier sebagai pebalap.
Dibesarkan di keluarga yang kurang harmonis, dengan kondisi orangtua bercerai ketika ia beranjak dewasa, Button lalu memasuki ajang balap mobil single seater termewah di dunia, yaitu F1, pada tahun 2000. Ia dilirik Sir Frank Williams untuk bergabung dengan tim F1 Williams setelah mengalahkan pebalap Formula 3000 Bruno Junqueira dalam sebuah shoot out atau duel.
Di awal kariernya di F1 ini, prestasi terbaiknya adalah mencapai finis di urutan kelima di Belgia. Di klasemen akhir, Button berada di peringkat kedelapan. Namun, karena kalah bersaing dengan Ralf Schumacher, adik pebalap Michael Schumacher, ia pun hijrah ke Benetton, meskipun masih dalam ikatan kontrak dengan Williams.
Tercatat, setelah ini, ia berkali-kali pindah dengan tim F1 lainnya, yaitu Renault, British American Racing atau BAR, dan Honda, sebelum akhirnya bergabung dengan Brawn GP yang kini melambungkan namanya. Dari torehan tujuh kemenangan sepanjang karier di balap F1, sebanyak enam di antaranya diperoleh selama membalap untuk Brawn GP.
Pebalap yang tinggal di Monaco ini sekarang berpacaran dengan model seksi asal Jepang, Jessica Michibata. Di luar balapan, hampir jarang ada gosip yang menyinggung dirinya. Jika tidak balapan, maka Jenson memilih menghabiskan waktunya dengan bersepeda gunung atau berseluncur.
Tatanan baru
Mengilapnya prestasi Button melalui dominasi Brawn GP di tahun ini memang tidak lepas dari sorotan negatif media. Beberapa media menilai keberhasilan Button dan Brawn GP di tahun ini tidaklah terlepas dari keberuntungan yang dipicu new order, yaitu perubahan tatanan kekuatan tim F1 akibat penerapan sejumlah regulasi baru.
Beberapa ketentuan baru, seperti penggunaan Kinetic Energy Recovery System (KERS), pengurangan sensitivitas aerodinamika, dan larangan uji coba pada tengah musim, mengubah peta kekuatan tim F1 tahun ini. Kontroversi penggunaan diffuser pada komponen aerodinamika mobil-mobil Brawn GP pun sempat dipersoalkan tim lain, meskipun kemudian dibenarkan oleh otoritas Federasi Otomobil Internasional (FIA).
Tekanan lain untuk Button muncul di pertengahan musim. Seusai serangkaian hasil cemerlang di awal musim, ia tidak pernah lagi menang. Bahkan, pebalap yang pernah mencatatkan diri sebagai pebalap termuda yang pernah menorehkan poin di tahun 2000 sebelum direvisi oleh Sebastian Vettel di 2007 ini hanya sekali podium, yaitu di Italia, dalam sembilan balapan terakhir.
Namun, menyikapi ini, Ross Brawn berkomentar, Jenson adalah juara dunia yang sangat bisa diandalkan dalam banyak sisi.
"Ketika kami memiliki banyak masalah dengan mobil pada pertengahan musim, ia tidak melakukan satu kesalahan pun pada musim ini. Khususnya hari ini. Orang-orang jarang menyadari betapa hebatnya tekanan yang dia terima dalam kondisi itu," ungkap Brawn memuji ketenangan Button, seperti dikutip The Guardian.
Sebagai juara dunia, Button sekali lagi menghadapi ujian baru. Pada musim 2010, posisinya di Brawn GP belum bisa dipastikan karena perlu ada penegosiasian ulang.
Namun, CEO Nick Fry dengan bijaksana mengatakan, Jenson telah mendapatkan banyak luka beberapa tahun terakhir ini. Dengan pengalaman yang penuh memar itu, ia akan lebih mudah menjalani karier seusai sukses sekarang. (AP/AFP)
Biodata:
Nama: Jenson Alexander Lyons Button
Lahir: Frome, Somerset, Inggris, 19 Januari 1980
Riwayat Karier:
-Tahun 1991 Menjuarai Kejuaraan Nasional Gokar Kelompok Kadet di Inggris
-Tahun 1992 Menjuarai Kejuaraan Terbuka Junior Gokar di Inggris
-Tahun 1993 Menjuarai Kejuaraan Terbuka Gokar Inggris
-Tahun 1998 Menjuarai Kejuaraan Formula Ford Inggris
-Tahun 1999 Juara Ketiga Kejuaraan Formula 3 Inggris
-Tahun 2000 Menempati urutan ke-8 dunia di balap F1 bersama tim Williams
-Tahun 2009 Meraih Juara Dunia Formula 1