JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank, Jakarta, Rabu (21/10) pagi, turun 75 poin menjadi Rp 9.465-Rp 9.475 per dollar AS dibandingkan hari sebelumnya, Rp 9.390-Rp 9.400, karena pelaku pasar melepas rupiah, terpicu oleh melemahnya bursa Wall Street.
Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk Kostaman Thayib di Jakarta, Rabu, mengatakan, koreksi terhadap rupiah saat ini dinilai wajar setelah hari sebelumnya menguat akibat dilantiknya Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI untuk yang kedua kalinya.
Namun, sentimen positif itu belum memicu pelaku pasar untuk kembali membeli rupiah. Mereka lebih percaya sentimen yang muncul dari luar, seperti melemahnya bursa Wall Street. "Bursa Wall Street dalam dua hari lalu terkoreksi akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap pendapatan korporat dalam kuartal ketiga tahun ini," tuturnya.
Menurut Kostaman Thayib, rupiah memang terkoreksi, tetapi hanya sementara karena peluang untuk menguat kembali masih tetap besar. "Para pelaku pasar masih menunggu pelantikan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II," katanya.
Pelaku pasar, lanjutnya, masih ingin melihat apakah susunan KIB II akan mengalami perubahan atau tidak. Namun, yang penting adanya koordinasi yang baik sehingga ekonomi akan tumbuh lebih baik.
Rupiah masih berkisar di bawah angka Rp 9.500 per dollar AS dan berpeluang untuk kembali di bawah angka Rp 9.300 per dollar AS apabila susunan KIB ini sudah ditetapkan," tuturnya.
Indonesia, menurut dia, masih dinilai pasar yang potensial karena minat pelaku asing untuk bermain di pasar domestik masih tinggi. Karena itu, peluang rupiah untuk naik lagi masih besar. "Investor asing sendiri cenderung lebih suka menempatkan dananya di Indonesia karena berbagai kemudahan diperoleh, seperti bahan baku, tenaga kerja yang murah, serta keamanan dan kenyamanan sangat mendukung," katanya.