Lusinan Warga Uighur Raib

Kompas.com - 22/10/2009, 05:43 WIB

URUMQI, KOMPAS.com - Lusinan warga etnis Uighur menghilang sejak ditahan pascakerusuhan di kawasan Xinjiang, China, demikian isi laporan Human Right Watach (HRW). Menurut lembaga tersebut, Rabu (21/10), 43 laki-laki dan banyak remaja pria yang ditangkap dalam razia di Uighur kawasan Urumqi, dan sejak saat itu menghilang tanpa jejak.

Kerusuhan dan aksi protes pada awal Juli di kota itu sendiri menyebabkan sekitar 200 orang tewas.

Pemerintah pusat China menolak menjawab semua pertanyaan tentang semua orang yang ditahan oleh otoritas keamanan Xinjiang.

Pertanyaan tentang penangkapan etnis Uighurs juga ditanyakan kepada pemerintah provinsi, tetapi juga tidak ada respon atas sejumlah pertanyaan dari BBC tersebut.

Bukan kepemimpinan dunia

"Banyak kasus yang kami temukan hanya seperti ujung gunung es," kata Brad Adam, Direktur Human Rights Watch Asia.

Kelompok ini meminta kepada pemerintah China memberikan penjelasan atas penangkapan sejumlah orang.

Dalam sebuah laporan tentang penghilangan orang, HRW mengatakan polisi merazia dua wilayah Uighur di Urumqi sesaat setalah kerusuhan. Setidaknya 43 orang dibawa pergi dan tidak ada kabar lagi sejak saat itu.

"Berdasarkan penjelasan saksi, aparat keamanan memblokade seluruh kawasan dan mencari lelaki Uighur," kata HRW.

Kelompok ini mengatakan kebanyakan lelaki yang dibawa adalah pemuda berusia 20 tahunan, walau ada sejumlah laporan menyebut juga terdapat anak berusia 12 dan 14 tahun.

Dalam banyak kasus, banyak keluarga tidak dapat menelusuri bagaimana nasib anggota keluarga mereka yang ditangkap tersebut, kata HRW, yang laporannya berdasarkan wawancara dengan warga setempat.

"Cina semestinya hanya menggunakan tempat penahanan resmi sehingga semua orang yang ditahan bisa berhubungan dengan keluarganya dan mendapat bantuan hukum," kata Adams.

"Penghilangan orang bukanlah tindakan bagi negara yang menginginkan untuk menjadi pemimpin dunia," tambahnya.

Etnis Uighurs adalah penduduk asli Xinjiang mengamuk setelah sejumlah laporan menyebut banyak orang Uighur yang tewas di kawasan selatan Cina.

Mereka menyerang suku Han- sebuah kelompok yang pindah dari kawasan barat baru baru ini, peristiwa bentrokan antarsuku ini sendiri menyebabkan banyak orang tewas.

Etnis Uighur mengatakan kebudayaan mereka dirusak sejak kedatangan jutaan suku Han dari bagian lain kawasan China.

Dua bulan setelah serangan tersebut, suku Han juga melancarkan aksi protes.

Setelah itu, terjadi kerancuan atas angka pasti orang yang ditahan, sebagian di antaranya disebabkan oleh keengganan otoritas untuk menjelaskan jumlah pasti.

Dalam satu kesempatan otoritas setempat mengatakan lebih dari 1.500 orang ditahan, tapi sejauh ini hanya sedikit yang baru disidangkan.

Persidangan awal dimulai minggu lalu, 9 orang dihukum mati atas keterlibatan mereka dalam kerusuhan.

Kritik mengemuka kalau persidangan tidak memenuhi standar internasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau