"Politik Akomodasi" Dominasi Kabinet SBY

Kompas.com - 22/10/2009, 08:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi telah mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Bersatu II yang akan mengawalnya selama 5 tahun ke depan.

Dilihat dari komposisinya, lebih dari separuh menteri SBY (21 orang) merupakan representasi perwakilan partai politik yang menjadi mitra koalisi Partai Demokrat, pengusungnya. Pengamat politik Universitas Gadjah Mada, Ari Sudjito menilai, SBY menggunakan politik akomodasi dalam pemilihan dan penentuan anggota kabinet.

 

"Politik akomodasi kuat sekali. Padahal, presiden memiliki catatan selama 5 tahun terakhir, apakah orang-orang yang ditempatkan kompeten atau tidak. Tidak hanya pertimbangan perwakilan partai," kata Ari, kepada Kompas.com, tadi malam.

 

Dia melihat, terdapat ketidaksesuaian posisi dalam menempatkan sejumlah menteri. Dicontohkannya, Hatta Rajasa yang memiliki kelihaian lobi dinilai kurang pas menempati posisi Menko Perekonomian.

"Kemudian, Darwin Zahedy Saleh (Menteri ESDM, Partai Demokrat), track record-nya apa?" ujar dia.

 

Seharusnya, pada periode kedua kepemimpinannya, kata Ari, SBY sudah tak memiliki beban untuk mengakomodasi kepentingan-kepentingan politik yang ada di belakangnya. Penempatan dan pemilihan para menteri ini, juga dianggap sedikit mengesampingkan tiga pertimbangan, yaitu latar belakang calon, kapasitas dan penyesuaian dengan program 100 hari SBY-Boediono.

 

"Susunan kabinet ini memperjelas sinyalemen bahwa SBY tidak memperhatikan beragam masukan dan bahwa perbaikan dari kabinet sebelumnya tidak menjadi catatan," kata Ari.

 

Kendati demikian, dia mengapresiasi penempatan Gamawan Fauzi sebagai Menteri Dalam Negeri. Menurut Ari, dalam hal ini, SBY melakukan terobosan baru dengan menempatkan sosok nonmiliter. Selama ini, pos Menteri Dalam Negeri selalu diisi oleh orang yang berlatar belakang militer.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau