Industri Properti di Bawah Pemerintah Baru

Kompas.com - 22/10/2009, 15:10 WIB

KOMPAS.com - Proses pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilu presiden yang berjalan lancar hingga proses pelantikan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono sebagai presiden dan wakil presiden periode 2009-2014 telah meningkatkan kepercayaan dunia usaha, termasuk industri properti, terhadap perkembangan ekonomi negara ini.

Bahkan, akhir-akhir ini ada kecenderungan pembelian produk properti komersial meningkat setelah pelaksanaan agenda politik lima tahunan berjalan aman dan lancar. Sebagai salah satu instrumen investasi, produk properti akan menjadi pilihan investor untuk menanamkan modalnya.

Oleh karena itu, kalau saja warga negara asing bisa memiliki produk properti komersial hingga 75 tahun, misalnya kondominium atau apartemen mewah, diperkirakan Indonesia akan menjadi salah satu tujuan utama investasi para pemilik modal dari berbagai negara.

Tidak ada hal yang patut dikhawatirkan dengan masuknya asing ke sektor properti komersial asalkan kebijakan tersebut bisa diimbangi dengan aturan pemerintah yang mewajibkan pengembang yang membangun properti komersial itu membangun rumah bagi rakyat kecil, seperti rumah susun sederhana milik atau rumah sederhana sehat.

Jika itu bisa dilakukan, industri properti akan lebih banyak lagi menciptakan lapangan kerja baru. Di industri real estat, setidaknya ada 104 usaha yang terkait satu sama lain mulai dari industri semen, tukang batu, perbankan, hingga kontraktor. Kalau pemerintah benar-benar concern dengan pengurangan jumlah kemiskinan dan pengangguran, perlu ada terobosan kebijakan yang bisa memacu kegiatan usaha di sektor riil.

Aksi korporasi

Di tingkat mikro, saat ini tiap-tiap perusahaan yang bergerak di sektor properti sudah melakukan berbagai upaya untuk menggairahkan industri ini. Misalnya, Sinarmas Developer and Real Estate (Simasred), salah satu divisi usaha di Grup Sinar Mas, kini telah memayungi lebih dari 80 perusahaan dengan status kepemilikan mayoritas dan minoritas, baik skala nasional maupun internasional.

Dalam pengembangan Global City, Simasred senantiasa mengutamakan empat pilar dasar, yang meliputi hunian, bisnis, pendidikan, dan rekreasi. Untuk hunian, perusahaan pengembang ini berusaha menciptakan hunian yang peduli terhadap global warming, eco-living, dan smart home sehingga tercipta  lingkungan yang sehat, hijau, dan nyaman serta mengikuti perkembangan zaman.

Dalam pilar bisnis, Simasred berusaha menciptakan kawasan bisnis, baik skala nasional maupun internasional. Dalam segi pendidikan, perusahaan yang didirikan oleh taipan Eka Tjipta Widjaja ini menyediakan fasilitas bagi institusi pendidikan yang berkualitas internasional dan nasional, mulai dari taman kanak- kanak hingga universitas. Pada saat yang sama, perusahaan pengembang yang berada di bawah Grup Sinar Mas juga menyediakan area hiburan dan bermain serta sarana olahraga untuk tujuan relaksasi yang benar-benar maksimal.

Upaya untuk meningkatkan mutu produk properti juga dilakukan Metropolitan Land. Perusahaan ini telah memiliki standardisasi ISO 9000:2000 sejak tahun 2004 dan pada November 2008 diberikan kenaikan tingkat oleh badan sertifikasi United Registrar of System (URS) menjadi ISO 9001:2008.

Standardisasi yang diberikan oleh badan internasional tersebut menjadi parameter dari kredibilitas dan mutu produk properti yang dihasilkan Metropolitan Land. Kredibilitas menjadi penting karena pada umumnya pengembang di Indonesia menjual konsep dan gambar.

Realisasi dari konsep yang ditawarkan itu yang menuntut kredibilitas tinggi para pengembang agar apa yang ditawarkan dengan hasilnya sesuai, seperti ketepatan serah terima, kualitas bangunan yang sesuai spesifikasi, layanan purnajual, dan yang paling penting pengembang tidak lepas tanggung jawab alias kabur setelah memperoleh sejumlah dana dari konsumen.

Langkah terobosan lain juga dilakukan perusahaan pengembang yang membangun kawasan perumahan di Alam Sutera di kawasan Serpong, Tangerang, Banten.

Belum lama ini, PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) merampungkan pembangunan akses tol di Kilometer 15+400 Tol Jakarta-Merak. Ini merupakan kontribusi langsung kepada pengguna tol yang akan menuju atau dari Jakarta.

Beroperasinya akses tol ini akan membawa berbagai dampak positif bagi kemajuan Alam Sutera serta wilayah Serpong dan sekitarnya dengan semakin dekatnya pintu masuk Serpong dari arah Jakarta. Berubahnya peta Serpong diharapkan dapat memajukan perekonomian area ini.

Akses tol ini akan menjadi jalan alternatif yang sekaligus akan membantu mengurangi angka kemacetan di Jalan Raya Serpong. Harapan tentang dampak positif dari pengoperasian akses tol ini memang nyata terwujud. Hal ini dapat dilihat dari berkurangnya tingkat kemacetan atau kepadatan kendaraan di Jalan Raya Serpong saat jam sibuk.

Perusahaan pengembang saat ini juga berlomba melakukan ekspansi ke luar Jakarta, seperti yang dilakukan kelompok usaha Marbella. Pada 9 September 2009, kelompok usaha ini baru saja membuka secara bertahap proyek apartemen Marbella Suites Bandung. Proyek ini merupakan portofolio properti ketiga yang dikembangkan Grup Marbella selain Marbella Anyer dan Marbella Kemang Residence di Jakarta yang beroperasi terlebih dahulu, sejak tahun 1996.

Kegiatan usaha dan ekspansi yang dilakukan para pengembang properti itu menunjukkan adanya keyakinan dan harapan positif terhadap perekonomian Indonesia di masa depan. Untuk itu, pemerintah sebaiknya bisa terus memelihara dan meningkatkan kepercayaan dari dunia usaha ini.

Pada saat yang sama, pemerintah harus secara khusus bisa memerhatikan kebutuhan rumah untuk rakyat kecil dan masyarakat berpenghasilan rendah. Sementara untuk industri properti komersial, biarkan diserahkan saja pada mekanisme pasar. Pemerintah cukup memelihara masalah keamanan, memberikan iklim usaha yang kondusif, serta kepastian berusaha. (Tjahja Gunawan Diredja)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau