Hati-hati, Ada Wanita Berambut Ikal Menculik Bayi di RSUD

Kompas.com - 23/10/2009, 16:58 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com — Bayi laki-laki yang baru berusia dua hari diduga menjadi korban penculikan seorang wanita saat sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Semarang.

Peristiwa penculikan bayi laki-laki dengan berat badan 4,3 kilogram ini baru diketahui pada Jumat (23/10) siang.

Mohammad Yahron (31) dan Dwi Setyowati (27), warga Dusun Bogosari RT 1 RW 3 Kelurahan Bosari, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, melaporkan musibah yang baru dialaminya ke Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Semarang Selatan pada Kamis pukul 22.30 WIB.

Kepada polisi, ayah bayi itu menerangkan, kejadian berawal saat istrinya melahirkan anak pertama di rumah sakit yang terletak di Jalan Fatmawati Nomor 1 Semarang tersebut dan dirawat di Ruang Kunthi.

"Pada Kamis sekitar pukul 14.45, bayi saya dimandikan salah seorang bidan rumah sakit bernama Milla Nourbaita (29), kemudian digendong dan dikembalikan ke tempat perawatan bayi," katanya kepada polisi.

Beberapa saat kemudian, bayi tersebut digendong siswa perawat yang sedang magang di RSUD Semarang bernama Eka Laiyanatus Sifah (18) untuk dibawa ke ruang perawatan ibunya.

Saat akan menuju ruang perawatan, tiba-tiba Eka dihampiri seorang wanita yang mengaku sebagai saudara ibu bayi dan meminta izin untuk menggendong bayi tersebut.

"Wanita itu meminta izin kepada perawat yang membawa bayi saya dan mengatakan akan membawa ke ruangan tempat istri saya menjalani perawatan," ujarnya.

Namun, setelah ditunggu-tunggu beberapa waktu, bayi laki-laki tersebut diketahui tidak dibawa ke ruangan ibunya, tetapi dibawa kabur wanita yang diduga merupakan anggota jaringan penculikan anak.

Yuhron menjelaskan, wanita yang tidak dikenal tersebut mempunyai ciri-ciri berusia sekitar 30 tahun, berambut ikal, kulit sawo matang, dan tinggi badan sekitar 150 sentimeter.

"Kami sudah berusaha mencari ke seluruh penjuru rumah sakit, namun tidak ditemukan dan akhirnya melaporkannya ke polisi," katanya.

Saat dilakukan konfirmasi mengenai kasus ini, pihak rumah sakit tidak ada yang bersedia memberikan keterangan, termasuk Kepala Bagian Humas RSUD Kota Semarang Sussana, yang dihubungi melalui telepon selulernya, tetapi tidak memperoleh jawaban.

Kapolres Semarang Selatan AKBP Nurcholis melalui Kasat Reskrim AKP Gandung Sardjito, saat ditemui secara terpisah, mengaku masih melakukan penyelidikan terkait kasus dugaan penculikan bayi tersebut.

"Saat ini kami masih melakukan penyelidikan intensif dengan mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi seperti seorang bidan dan siswi yang magang di rumah sakit tersebut," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau