WASHINGTON, KOMPAS.com — Pesaing pemilihan presiden Afganistan Abdullah Abdullah, Jumat (23/10), memutuskan bergabung dengan pemerintah Hamid Karzai, jika incumbent itu mengalahkannya dalam pemilihan putaran kedua pada 7 November.
"Saya rasa saya telah meninggalkan pemerintah Karzai sekitar tiga setengah tahun yang lalu, dan sejak itu saya tak berusaha menjadi bagian dari pemerintah... bagian dari situasi yang makin memburuk," kata mantan menteri luar negeri ini kepada CNN.
"Karena itu, saya sama sekali tidak tertarik dengan skenario seperti itu. Sementara itu, pada saat yang sama, demi kepentingan negara saya, jika Karzai terpilih melalui proses yang transparan dan kredibel, saya akan jadi orang pertama yang mengucapkan selamat kepadanya," katanya.
Abdullah juga menuduh pemerintah Karzai dan Komisi Pemilihan Independen (IEC) telah bersekongkol dalam kecurangan pemilihan putaran pertama, yang kemudian membawa ke pemilihan putaran kedua.
"Namun sayangnya, pemerintah terlibat, IEC terlibat. Ini adalah menurut setiap orang," tuduh Abdullah, yang secara resmi memenangkan 30,59 persen dalam pemungutan suara putaran pertama.
Karzai sepakat untuk melaju dalam pemilihan putaran kedua setelah lebih dari sejuta surat suara pada penghitungan suara pertama 20 Agustus dihitung karena diselewengkan. Tindakan itu membuat perolehan suaranya kurang dari 50 persen, pencapaian yang diperlukan untuk menentukan kemenangan.
Para pemimpin negara Barat, yang dipimpin Presiden Amerika Serikat Barack Obama, telah memuji keputusan Karzai untuk maju ke pemilihan putaran kedua. Namun, tersebar luas adanya kekhawatiran mengenai terulangnya proses membahayakan, berkaitan dengan masuknya Afganistan pada musim dingin.
IEC Afganistan mengatakan, pemilihan putaran kedua akan dimulai Sabtu, diawali dengan 12 hari kurun kampanye sampai 5 November, dan dilanjutkan pendistribusian materi pemilihan ke seluruh negeri.
Obama, yang memerintahkan 21.500 tentara tambahan ke Afganistan pada Maret, mempertimbangkan permintaan dari komandan perang Jenderal Stanley McChrystal tentang penambahan puluhan ribu prajurit untuk menghadapi pemberontakan Taliban di Afganistan.