Presiden SBY Tiba di Hua Hin

Kompas.com - 24/10/2009, 11:49 WIB

HUA HIN, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tiba di Hua Hin, Thailand, Sabtu (24/10), untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-15 ASEAN yang digelar hingga 25 Oktober 2009. Pesawat kepresidenan yang membawa Presiden Yudhoyono beserta rombongan tiba di Bandara Hua Hin, sekitar 200 kilometer selatan Kota Bangkok, pada pukul 11.15 waktu setempat.

Dalam rombongan kepala negara turut serta beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu II yang baru dilantik pada 22 Oktober 2009, yaitu Menteri Pertanian Suswono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, serta Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang belum dilantik, Gita Wirjawan.

Setibanya di Hua Hin, Presiden yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono langsung menuju Hotel Grand Pacifica, tempat rombongan menginap selama berada di Hua Hin. Presiden dan Ibu Negara Ny Ani Susilo Bambang Yudhoyono menggunakan mobil kepresidenan, yaitu Range Rover dengan plat nomor Ina-1. Adapun para menteri dijadikan satu mengenakan Toyota Comuter berwarna putih. Jumlah rangkaian kendaraan delegasi Indonesia berjumlah 15, termasuk kendaraan pengamanan dan bus wartawan.

Pada Sabtu pukul 14.15, Presiden Yudhoyono dijadwalkan menghadiri pertemuan puncak ke-12 kepala negara/pemerintahan ASEAN+3 (Jepang, China, dan Korea Selatan) di Hotel Dusit.

Setelah itu, pada pukul 16.00 WIB Presiden akan menghadiri pertemuan tingkat tinggi ke-7 pemimpin negara ASEAN dan India. Pada Sabtu malam, kepala negara akan menghadiri gala dinner di Phetchaburi Grand Hall, Holiday Inn Resort, dengan Perdana Menteri (PM) Thailand Abhisit Vejjajiva yang berperan sebagai tuan rumah.

Pada Minggu 25 Oktober 2009, kepala negara akan menghadiri pertemuan puncak ke-4 pemimpin negara Asia Timur yang terdiri atas kepala negara/pemerintahan ASEAN+3 serta India, Australia, dan Selandia Baru.

Setelah itu, Presiden akan menghadiri working lunch pemimpin negara Asia Timur yang diikuti dengan upacara penutupan KTT ke-15 ASEAN dan penandatanganan dokumen yang dihasilkan.

Menurut sekretariat media KTT ke-15 ASEAN, terdapat dua dokumen yang akan dideklarasikan pada tingkat kepala negara/pemerintahan, yaitu deklarasi tentang Komisi Hak Asasi Manusia antar-pemerintah ASEAN dan deklarasi penguatan kerja sama pendidikan dalam kerangka pembentukan komunitas ASEAN pada 2015.

Selain itu, KTT ke-15 ASEAN juga menghasilkan dua pernyataan bersama pemimpin sepuluh negara Asia Tenggara, yaitu pernyataan bersama tentang perubahan iklim dan keterhubungan komunitas ASEAN.

Di sela-sela rangkaian kegiatan KTT ke-15 ASEAN, Presiden Yudhoyono dijadwalkan mengadakan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Jepang yang baru, Yukio Hatoyama, dan PM India Manmohan Singh.

Menurut Juru Bicara Kepresidenan Bidang Luar Negeri Dino Pati Djalal, dalam kesempatan itu kedua kepala pemerintahan akan membahas kemitraan komprehensif antara kedua negara dan mendorong peningkatan kerja sama dan hubungan baik antara kedua negara mengingat Indonesia-Jepang telah memiliki hubungan diplomatik sejak 50 tahun lalu.

Dino mengatakan bahwa dalam pertemuan itu boleh jadi juga akan dibahas mengenai peran Jepang dalam proses rekonstruksi di Padang, Sumatera Barat, pascagempa bumi 30 September lalu.

"Juga dibahas multilateralisasi dari inisiatif Chiang Mai (inisiatif bersama ASEAN+3 untuk mengatasi krisis keuangan global)," ujarnya.

Kedatangan Presiden Yudhoyono di Hua Hin terlambat satu hari dari yang dijadwalkan, yakni Jumat (23/10) siang. Presiden menunda keberangkatan ke Thailand karena harus menggelar sidang kabinet paripurna untuk memberikan arahan kepada menteri-menteri baru yang mulai bertugas dalam Kabinet Indonesia Bersatu II.

Karena keterlambatan itu, Presiden Yudhoyono diwakilkan oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dalam working dinner pemimpin negara ASEAN pada Jumat malam.

Pembukaan KTT ke-15 ASEAN pada Jumat pagi hanya dihadiri oleh lima dari sepuluh pemimpin negara ASEAN. Sebanyak lima pemimpin negara ASEAN, yaitu PM Kamboja Hun Sen, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo, dan Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak, tidak hadir dalam upacara pembukaan.

Sultan Brunei Darussalam HM Sultan Haji Hassanal Bolkiah diinformasikan telah tiba di Thailand sejak 22 Oktober. Namun, saat pembukaan berlangsung, Sultan Brunei Darussalam tidak tampak.

Akibat ketidakhadiran lima kepala negara/pemerintahan tersebut, beberapa agenda pertemuan setelah acara pembukaan untuk membahas sejumlah isu harus diselenggarakan tanpa diikuti seluruh kepala negara/pemerintahan anggota.
Sejumlah isu yang dijadwalkan ada dalam pembahasan adalah isu mengenai keterhubungan ASEAN, ketahanan pangan dan energi, perubahan iklim dan manajemen bencana.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau