Kompasiana dan Tantangan Empat Generasi

Kompas.com - 25/10/2009, 03:55 WIB

PEPIH NUGRAHA

Ada pesan mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman saat berpidato pada perayaan hari ulang tahun pertama Kompasiana. Pesannya, tantangan ke depan Kompasiana, social media atau blog keroyokan yang menjadi bagian Kompas.com, adalah mampu mengakomodasi kebutuhan empat generasi sekaligus dan menjadi blog sosial yang berbicara di tingkat Asia.

Keempat generasi itu ialah, pertama, silver generation, yaitu generasi yang sudah berambut keperak-perakan atau beruban. Generasi ini tidak memerlukan foto atau video, tetapi cukup teks saja. Kedua, generasi baby boomers yang sudah mulai menyukai animasi dan warna. Ketiga, X-Generation, yang sudah mengakrabi internet. Keempat, generasi "ABG" yang tidak bisa lepas dari internet. Generasi ini sudah tidak menyukai teks. Menurut Kusmayanto, ini tugas desainer web dan penyedia konten Kompasiana untuk mengakomodasi keempat generasi ini.

Memang tidak mudah menyatukan minat dengan latar belakang usia yang berbeda. Namun, sebagai media sosial yang tanpa batasan usia, Kompasiana ditantang mewujudkan hal itu.

Padahal, pada awal kelahirannya setahun silam, Kompasiana masih menyandang blog jurnalis yang disokong blogger tamu, blogger selebriti, dan blogger publik. Namun, dengan tren semakin digandrunginya jaringan sosial berbasis internet, seperti Facebook dan microblogging, misalnya Twitter, Kompasiana mencoba mengikuti tren ini, bahkan memadukan keunikan di dalamnya sehingga menjadi ciri khas sendiri.

Pada tampilan baru yang resmi diluncurkan tepat ulang tahun pertamanya, Kompasiana menjadi lebih berwarna, mudah digunakan, dan memungkinkan anggotanya tersambungkan satu sama lain. Dengan semboyan "sharing. connectin"”, Kompasiana mengundang pembacanya menjadi penulis, kolumnis, dan jurnalis yang saling tersambungkan. Sesama Kompasianer saling tersambungkan, itu karena satu postingan bisa dibaca dan dikomentari bersama.

Runtuhkan "feodalisme"

Kompasiana menyilakan siapa pun mempostingkan artikel atau laporan pandangan matanya dalam bentuk teks dan foto tanpa harus dimoderasi (disetujui) administrator. Demikian pula komentar atas sebuah postingan bisa langsung tampil tanpa harus menunggu persetujuan. Meski demikian, siapa pun yang ingin menjadi penulis dan komentator diharuskan melakukan registrasi terlebih dahulu. Dengan registrasi, otomatis ia mendapat satu blog berikut content management system (CMS) sebagai wadah untuk menulis.

Seperti banyak dikritik anggotanya sendiri, misalnya Prof Nurtjahjadi, Kompasianer yang tinggal dan mengajar di Malaysia, Kompasiana sebelum tampil dengan wajah baru masih menganut ”feodalisme” dengan memberi privasi lebih kepada jurnalis dan blogger tamu yang bisa langsung mempostingkan artikel dan komentarnya tanpa moderasi. Sedangkan blogger publik harus menunggu tulisan atau komentarnya dimoderasi ”Padahal, Kompasiana justru diramaikan oleh publik yang telah melakukan registrasi,” katanya.

Derasnya kritik membuat pengelola Kompasiana meruntuhkan tembok "feodalisme" itu dengan memberi tanggung jawab penuh anggotanya untuk langsung mempostingkan artikel maupun komentarnya.

Banyak pula beranggapan, dengan langsung menayangkan postingan dan komentar tanpa moderasi Kompasiana akan menjadi tempat buang sampah informasi yang tidak bermanfaat. Sebaliknya, tim Kompasiana berpikiran, dengan membebaskan Kompasianer mempostingkan langsung artikel dan komentar, tanggung jawab dan integritas mereka sebagai penulis dipertaruhkan. Pilihannya: mau mempostingkan tulisan yang bermanfaat buat yang lain atau mempostingkan tulisan yang memancing antipati.

Naik peringkat

Jika pada awal berdirinya Kompasiana yang beralamat di http://kompasiana.com masih berada di peringkat ”antah berantah”, sebagaimana disampaikan Direktur Kompas.com Taufik H Mihardja, pada perayaan ulang tahun pertamanya yang berlangsung di Mario’s Place, Kamis (22/10), Kompasiana sudah berada di ranking 300-an situs Indonesia. Situs Alexa.com menunjukkan, tepat saat ulang tahun pertama Kamis lalu, Kompasiana di ranking 300.

Di tingkat situs dunia, masih berdasarkan Alexa, Kompasiana berada di ranking 19.773. Saat pelaksanaan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden beberapa bulan lalu, ranking Kompasiana sempat melejit menyentuh angka 12.000, sebuah pencapaian yang, menurut Kusmayanto, menggembirakan mengingat usianya yang saat itu belum genap setahun. ”Jangan cuma masuk ranking 100 Indonesia, kalau bisa masuk ranking 100 Asia!” tantang Kusmayanto.

Hingga tulisan ini diturunkan, anggota Kompasiana 7.500-an orang. Berdasarkan Google Analytics, sehari rata-rata Kompasiana dibaca 25.000 orang. Sepanjang satu bulan terakhir, 22 September sampai 22 Oktober, Kompasiana diklik 546.913 pengunjung dengan jumlah halaman terbaca sebanyak 1,3 juta.

Saat ini sudah 14.300 tulisan yang telah dipostingkan. Jika setiap tulisan rata-rata setara tiga halaman kertas folio, terdapat 42.900 halaman, cukup untuk membuat 43 buku setebal masing-masing 1.000 halaman!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau