AMBON, KOMPAS.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD) Maluku secara intensif memantau dampak gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter (SR) yang mengguncang Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku Barat Daya, Kepulauan Aru, Maluku Tenggara dan Kota Tual.
"Sejak gempa mengguncang pada Sabtu (24/10), pukul 23:40 WIT, kami secara intensif berkoordinasi dengan masing-masing pemerintah kabupaten (Pemkab)/kota (Pemkot) yang terlanda gempa yang guncangannya terasa hingga di Australia utara itu," kata Kepala BPBD Maluku Chris Hehanussa ketika dikonfirmasi di Ambon, Minggu (25/10) malam.
Dia memastikan belum ada laporan kerusakan rumah maupun korban jiwa di empat Kabupaten dan Kota Tual. Saat gempa terjadi masyarakat berlarian ke luar rumah karena khawatir bangunan roboh maupun gelombang pasang (tsunami).
"Syukurlah belum ada laporan korban jiwa maupun rumah roboh akibat gempa yang berpusat pada 209 km barat laut Saumlaki dengan kedalamam 165 km pada posisi 6,23 LS - 130,60 BT," ujar Hehanussa.
Dia mengatakan, gempa tersebut kemungkinan berakibat rumah maupun bangunan mengalami retak-retak. "Kami telah meminta laporan dari Pemkab/Pemkot yang terlanda gempa tersebut," kata Hehanussa.
Dia juga mengikuti perkembangan gempa susulan yang mengguncang Maluku hari ini, Minggu. Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika(BKMG) Maluku, gempa pertama berkekuatan 5,3 Skala Richter (SR) pada kedalaman 39 kilometer berjarak 151 km barat daya Tual, sekitar pukul 09:35 WIT, atau pada posisi 6,69 LS dan 131,97 BT.
Gempa kedua berkekuatan 5,3 SR berpusat 228 kilometer barat laut Saumlaki kedalaman 125 km pada posisi 7,52 Lintang Selatan - 129,31 Bujur Timur, Minggu siang, sekitar pukul 14:00 WIT.
"Pemkab Maluku Tenggara, Kota Tual dan Kepulauan Aru serta Maluku Tenggara Barat, dan Maluku Barat Daya belum melaporkan kerusakan maupun korban jiwa," ujar Hehanussa.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Maluku Irwan Slamet ketika dikonfirmasi membenarkan dua gempa pada Minggu yang merupakan efek dari guncangan kuat pada Sabtu malam (24/10). "Memang tercatat di peralatan BMKG Maluku getarannya, hanya saja tidak dirasakan masyarakat karena itu gempa susulan untuk penyeimbangan," ujarnya.
Gempa 7,3 SR yang mengguncang Maluku dan dirasakan hingga Papua dan Australia itu hingga Minggu siang masih menjadi perbincangan masyarakat di Ambon dan sekitarnya karena dikhawatirkan menimbulkan kerusakan maupun korban jiwa sebagaimana yang terjadi di Sumatra Barat(Sumbar) pada 30 September 2009.