JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana UrbanFest 2009 terasa semakin semarak dengan hadirnya festival lowrider, sepeda ceper.
Lowrider sendiri mulai menjadi tren di Indonesia sejak tiga tahun lalu. Sekalipun demikian bagi Aldri Christian (29), arus lowrider dipandangnya sebagai peluang usaha yang bagus untuk ke depan.
Dalam festival tersebut, Aldri menyabet juara satu untuk kategori street custome. Kemenangannya juga terkait dengan profesinya sebagai pemiliki bengkel lowrider, yang dirintisnya sejak dua tahun lalu.
"Ini bermula dari hobi. Imbas dari kemenangan ini bisa menaikkan nama bengkel, menambah kepercayaan customer," katanya pada Kompas.com seusai menerima hadiah di Ancol, Minggu (25/10).
Sebelum membuka bengkel yang dinamainya Urban Culture, Aldri adalah seorang freelance bar boy. Kemudian, berbekal hobi pada sepeda dan ditunjang dengan ijazah STM jurusan mesin, warga Bekasi ini memutuskan membuka bengkel lowrider.
"Waktu mulai jarang yang menyediakan bahan membuat lowrider. Dari kejarangan itu maka saya membuat sendiri dengan merangkai besi-besi," ucap Aldri.
Usaha yang terbilang unik ini terus ditekuninya. Hampir semua bahan dan aksesoris dihasilkan dari buatan tangannya. Bahkan ia mengklaim hasilnya tidak kalah dengan bahan impor. Hingga pada akhirnya, usahanya secara pasti memberikan masukan Rp 2,5-3 juta tiap bulan.
"Lumayan menjanjikan. Tiap hari ada saja, entah hanya penambahan aksesories karena barang hobi," ungkap Aldri.
Menonjolkan penampilan terkait dengan bentuk lowrider, Aldri mengakui bahwa sepeda ceper ini lebih mementingkan penampilan. Dalam festival itu pula, adu kreatifitas bentuk menjadi poin yang cukup menentukan. Maka muncullah lowrider berbentuk Batman, tengkorak, motor gede dengan ban belakang sangat lebar. Dari kasat mata, tampaknya sulit untuk dikendarai.
"Kekhasannya lebih ceper, sadel rendah, gear pendek, poreknya springer itu membuat kesimbangan sulit. Kalau belok ke kiri bodinya membuah ke kanan. Kalau jarak jauh lumayan pegal-pegal," paparnya.
Sulitnya mengendarai lowrider diakui oleh Beta Lukman (20). Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta semester III Seni Grafis, mulai tertarik lowrider tahun 2007. Saat itu ia langsung membeli dengan harga Rp 1,2 juta. "Susah sih awalnya. Stang tinggi, goyang-goyang. Gak nyaman, tapi lama-lama sudah terbiasa," ujar warga Tanjung Priok Jakarta Utara ini.
Yang jelas, arus lowrider semakin menjanjikan dengan terus berkembangnya kesadaran warga Jakarta untuk bersepeda. "Saya prediksi ke depan bagus, juga untuk bisnis. Apalagi diilihat ada event-event seperti ini, otomatis memacu kreatifitas dan menginspirasi orang lain," pungkas Aldri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang